Dengan 1,93 juta pekerja berpendidikan tinggi yang bekerja pada posisi di bawah tingkat kualifikasi mereka, memiliki pekerjaan saja mungkin tidak lagi menjadi ukuran yang memadai untuk menilai kemajuan karier.
KUALA LUMPUR, MALAYSIA – Media OutReach Newswire – 18 Agustus 2026 – Pasar tenaga kerja Malaysia tetap menunjukkan ketahanan, dengan tingkat pengangguran secara keseluruhan turun menjadi 2,9% pada kuartal pertama 2026. Namun, angka tersebut mungkin menyembunyikan tantangan yang lebih mendalam yang dihadapi pekerja berkualifikasi, yang mungkin telah memiliki pekerjaan tetapi belum mengalami kemajuan berarti dalam karier mereka. Pada periode yang sama, sebanyak 1,93 juta pekerja berpendidikan tinggi, atau 35,2%, bekerja dalam posisi semi-terampil atau berkeahlian rendah.
Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan antara memiliki pekerjaan dan kemajuan karier, khususnya terkait apakah kualifikasi dan pengalaman yang dimiliki pekerja benar-benar membantu mereka beralih ke posisi yang membutuhkan keterampilan lebih tinggi, lebih kompleks, dan memberikan nilai tambah yang lebih besar.
“Kita perlu mengubah pembicaraan dari sekadar kelayakan kerja menjadi mobilitas karier. Memiliki pekerjaan tidak sama dengan mengalami kemajuan karier,” ujar Lim Bee Ing, Direktur Centre of The University of Manchester South East Asia Centre. “Bagi para profesional berpengalaman di Malaysia, kemajuan karier semakin membutuhkan kemampuan untuk memimpin lintas fungsi, mengambil keputusan strategis, dan menghadapi perubahan. Pendidikan pascasarjana yang dirancang secara tepat dapat membantu membangun kemampuan tersebut.”
Bukti dari berbagai program MBA di Manchester juga menunjukkan meningkatnya mobilitas lintas bidang, bukan hanya faktor pekerjaan individual seperti kualifikasi semata. Laporan ketenagakerjaan MBA terbaru dari universitas tersebut menemukan bahwa 59% peserta angkatan 2024 berpindah sektor, sementara 27% berpindah negara, industri, dan fungsi pekerjaan.
Pengalaman Saja Tidak Menjamin Kemajuan Karier
Bagi para profesional yang sedang bekerja, mobilitas karier bergantung pada lebih dari sekadar lamanya waktu yang dihabiskan dalam suatu posisi. Baik pengalaman kerja maupun pendidikan pascasarjana dapat mendukung kemajuan karier ketika keduanya membantu membangun kemampuan yang lebih luas, mempersiapkan profesional menghadapi pekerjaan yang lebih kompleks, dan mendorong mereka untuk mengemban tanggung jawab yang lebih besar.
Pengalaman membangun kemampuan ketika para profesional menghadapi persoalan baru, mengambil tanggung jawab yang lebih tinggi, dan membuat keputusan yang semakin kompleks. Namun, bertahun-tahun melakukan pekerjaan dengan lingkup yang relatif sama belum tentu menghasilkan pertumbuhan profesional yang setara.
Demikian pula, gelar Master dapat mendukung kemajuan karier ketika dikaitkan dengan transisi karier yang jelas, seperti beralih dari posisi spesialis ke posisi manajerial, berpindah fungsi atau industri, mengambil tanggung jawab di tingkat regional, atau memimpin transformasi digital dan organisasi. Pendidikan tersebut cenderung memberikan hasil yang kurang berarti jika hanya ditempuh sebagai tambahan kredensial atau dengan harapan akan mendapatkan promosi maupun kenaikan gaji secara otomatis.
“Bagi para profesional berpengalaman, nilai sebuah MBA bukan sekadar memperoleh lebih banyak pengetahuan, tetapi melihat pengalaman mereka melalui perspektif bisnis yang lebih luas,” kata Xavier Duran, Direktur Global MBA Programme di Alliance Manchester Business School. “Perspektif yang lebih luas tersebut dapat membantu mempersiapkan mereka untuk tahap berikutnya dalam karier, baik untuk beralih ke posisi kepemimpinan, berpindah fungsi atau industri, maupun mengambil tanggung jawab internasional yang lebih besar.”
Mempersiapkan Profesional Menghadapi Perubahan Kebutuhan Perusahaan
Ekspektasi perusahaan juga terus berkembang. Kemampuan komunikasi, pemecahan masalah, dan pemikiran strategis tetap penting, sementara organisasi semakin membutuhkan profesional yang mampu menginterpretasikan data, memahami teknologi, dan menghadapi dampak kecerdasan buatan.
Seiring tuntutan tersebut membentuk kembali dunia kerja, seseorang dapat tetap memiliki kualifikasi teknis dan terus bekerja, tetapi pada saat yang sama menjadi semakin kurang siap untuk menjalankan peran berikutnya.
Belajar sambil bekerja dapat membantu menjembatani kesenjangan tersebut dengan memungkinkan para profesional menerapkan konsep-konsep baru secara langsung pada tantangan nyata yang sedang dihadapi organisasi. Hal ini juga memungkinkan mereka mengevaluasi pengalaman secara lebih kritis dan menghubungkan keahlian yang telah dimiliki dengan bidang yang lebih luas, seperti strategi, keuangan, sumber daya manusia, dan teknologi.
Manchester Global Part-time MBA menerapkan pendekatan tersebut melalui pembelajaran yang fleksibel, lokakarya interaktif, serta proyek bisnis praktis yang ditujukan bagi para profesional berpengalaman. Para peserta yang mendaftar memiliki rata-rata 12 tahun pengalaman profesional, termasuk enam tahun pengalaman di bidang manajemen. Hal ini menegaskan bahwa program tersebut dirancang untuk membangun dan mengembangkan karier yang telah dimiliki, bukan menggantikan pengalaman di tempat kerja.
Pendidikan Pascasarjana Bukan Semata untuk Menaikkan Gaji
Kemajuan karier seharusnya dilihat lebih luas daripada sekadar membandingkan besaran gaji. Indikator yang lebih bermakna mencakup perpindahan ke pekerjaan yang membutuhkan keterampilan lebih tinggi, tanggung jawab pengambilan keputusan yang lebih luas, akses terhadap peluang di tingkat regional atau internasional, serta kemampuan untuk memimpin proyek-proyek yang lebih kompleks.
Malaysia telah mencapai kemajuan dalam membantu para lulusan memasuki dan bertahan di dunia kerja. Prioritas berikutnya adalah mengubah status bekerja menjadi kemajuan karier yang berkelanjutan, sehingga talenta terus berkembang dan beralih ke pekerjaan yang dapat memanfaatkan kemampuan mereka secara lebih optimal.
Informasi lebih lanjut mengenai MA in Educational Leadership in Practice (ELiP) tersedia di www.manchester.com.my/ma-educational-leadership-in-practice/.

Tentang The University of Manchester & Alliance Manchester Business School
The University of Manchester menempati peringkat ke-35 dunia berdasarkan QS World University Rankings 2026, peringkat ke-5 di Inggris sebagai salah satu pusat riset unggulan berdasarkan REF 2021, serta peringkat ke-2 dalam THE Impact Rankings 2025. Dengan sebanyak 26 peraih Hadiah Nobel, rekam jejak akademik universitas ini termasuk salah satu yang terbaik di dunia.
Alliance Manchester Business School, yang merupakan bagian dari The University of Manchester, merupakan salah satu sekolah bisnis terkemuka di Inggris dan telah memperoleh akreditasi tiga serangkai (triple accreditation) dari AMBA, AACSB, dan EQUIS. Universitas ini memiliki jaringan alumni global dengan lebih dari 60.000 lulusan yang tersebar di 176 negara.
Recent Comments