Temuan mengungkap krisis tidur tersembunyi yang memicu kelelahan pada siang hari dan penurunan produktivitas meskipun telah tidur semalaman

  • Hampir seluruh pekerja kantoran (97%) mengalami penurunan kinerja setelah tidur malam yang buruk, dengan 58% mengalami penurunan produktivitas harian lebih dari 20%.
  • Sebagian besar pekerja gagal mengenali tanda-tanda sleep apnea, dan menganggap terengah-engah kronis, mendengkur, serta kelelahan pada siang hari sebagai hal yang wajar akibat tekanan pekerjaan.

SINGAPURA – Media OutReach Newswire – 10 September 2026 – Sebuah survei komprehensif mengenai kesehatan tidur yang bertajuk “Sleeping Enough, Waking Up Tired: The Hidden Cost of Sleep Apnea Risk in Singapore’s Workforce” mengungkapkan bahwa gangguan tidur yang tidak ditangani secara diam-diam menggerus produktivitas di kalangan tenaga kerja di seluruh Singapura.

Survei ini dilakukan atas kerja sama dan ditugaskan bersama oleh Easmed dan The Air Station, dua perusahaan teknologi medis yang berkantor pusat di Singapura dan memiliki spesialisasi dalam perangkat medis inovatif serta solusi kesehatan tidur. Survei terhadap 1.000 orang dewasa pekerja kantoran di Singapura berusia 30 hingga 60 tahun, yang dilakukan pada Juni 2026, mengungkap adanya kesenjangan yang mengkhawatirkan antara utang tidur, risiko klinis, dan tingkat kesadaran masyarakat.

Sleep Apnea (apnea tidur) adalah kondisi medis yang umum terjadi ketika saluran napas bagian atas berulang kali mengendur dan kolaps selama tidur sehingga untuk sementara menghentikan aliran oksigen. Kondisi ini memaksa otak berulang kali membangunkan tubuh untuk kembali memulai pernapasan, sehingga mengganggu siklus tidur utama dan menyebabkan dengkuran keras, terengah-engah, serta kelelahan berat pada siang hari.

Temuan Utama Survei

  • Produktivitas di tempat kerja menurun: 97% responden mengalami penurunan produktivitas setelah tidur malam yang buruk, dengan 58% memperkirakan kinerja mereka turun lebih dari 20%.
  • Risiko klinis yang tersembunyi: 1 dari 4 pekerja kantoran (24%) berada pada kategori risiko menengah hingga tinggi untuk mengalami Sleep Apnea berdasarkan hasil skrining.
  • Kesenjangan kesadaran yang luas: 60% karyawan belum pernah mendengar tentang Sleep Apnea atau hanya mengetahui namanya. Selain itu, 56% belum pernah mengevaluasi kualitas tidur mereka melalui dokter, aplikasi, maupun tes diagnostik.
  • Defisit tidur setiap malam: Pekerja di Singapura rata-rata tidur 6,3 jam per malam, dibandingkan dengan 7,4 jam yang mereka butuhkan agar merasa segar saat bangun, sehingga terdapat kekurangan tidur rata-rata 1,1 jam setiap hari.
  • Kesalahpahaman yang sudah dianggap normal: 50% memandang rasa lelah pada siang hari sebagai bagian normal dari kehidupan kerja yang sibuk, 25% percaya bahwa jeda singkat dalam bernapas saat tidur tidak berbahaya, dan 24% menganggap dengkuran keras sebagai tanda tidur yang nyenyak.
  • Hambatan utama untuk mendapatkan perawatan: Biaya diagnosis/pengobatan (51%) dan kurangnya pengetahuan mengenai tempat untuk mencari bantuan (36%) menjadi alasan utama pekerja menghindari pemeriksaan untuk Sleep Apnea.

Meskipun 72% karyawan menyebutkan jam kerja fleksibel sebagai dukungan utama yang mereka inginkan untuk mengatasi masalah tidur, para pakar kesehatan menekankan bahwa menambah waktu berada di tempat tidur tidak dapat mengatasi kondisi fisiologis yang mendasari seperti Sleep Apnea.

Akses perusahaan terhadap skrining bersubsidi (37%) dan edukasi tidur yang terarah (21%) tetap menjadi solusi yang paling langsung.

Mengomentari temuan survei tersebut, Dr. Phua Chu Qin, Konsultan Senior THT (Telinga, Hidung, Tenggorokan) dan Direktur Bedah Tidur di Sengkang General Hospital, mengatakan, “Temuan mengenai produktivitas dari survei lokal ini menegaskan bahwa tidur bukan sekadar persoalan gaya hidup. Hal ini sangat relevan saat ini, karena masyarakat Singapura perlu berhenti menganggap tidur yang buruk dan kelelahan terus-menerus pada siang hari sebagai sesuatu yang normal, serta mulai mengenali kapan kondisi tidur yang buruk memerlukan pemeriksaan.”

“Dengkuran dan adanya jeda pernapasan saat tidur tidak seharusnya secara otomatis dianggap tidak berbahaya. Mengenali tanda-tanda peringatan ini sejak dini dan menjalani pemeriksaan dapat menjadi langkah penting menuju kesehatan, kewaspadaan, dan produktivitas yang lebih baik,” tambahnya.

Paradoks Tidur: Waktu di Tempat Tidur versus Tidur yang Memulihkan

Studi tersebut menyoroti adanya ketidaksesuaian yang mencolok antara lamanya waktu yang dihabiskan di tempat tidur dan kualitas tidur yang sebenarnya. Rata-rata, pekerja kantoran di Singapura mengalami “utang tidur” sebesar 1,1 jam setiap malam, dengan waktu tidur 6,3 jam dibandingkan kebutuhan yang mereka laporkan sebesar 7,4 jam.

Namun, individu yang berdasarkan skrining berada pada risiko tertinggi mengalami Sleep Apnea justru melaporkan rata-rata waktu berada di tempat tidur yang lebih lama (6,68 jam) dibandingkan pekerja berisiko rendah (6,30 jam). Karena Sleep Apnea menyebabkan saluran napas berulang kali kolaps dan menimbulkan terbangun singkat atau micro-awakenings sepanjang malam, waktu yang dihabiskan di tempat tidur tidak selalu menghasilkan tidur yang benar-benar memulihkan tubuh.

Desensitisasi atau ketidakpekaan tersebut bahkan lebih mendalam: pekerja berisiko tinggi lebih dari dua kali lipat kemungkinannya dibandingkan pekerja berisiko rendah untuk mengatakan bahwa tidur malam yang buruk “tidak berdampak” pada produktivitas mereka (8% berbanding 2,5%), dan secara signifikan lebih mungkin mengatakan bahwa tidur yang buruk sama sekali tidak memengaruhi konsentrasi mereka. Dengan demikian, kelompok yang memiliki risiko kesehatan terbesar justru merupakan kelompok yang paling sulit mengenali kondisi tersebut pada diri mereka sendiri. Hal ini menegaskan mengapa penilaian diri saja tidak cukup untuk mendeteksi Sleep Apnea dan mengapa skrining klinis yang objektif sangat penting.

Mitos Berbahaya Membuat Masyarakat Singapura Tidak Menyadari Risikonya

Laporan tersebut mengungkap berbagai kesalahpahaman yang masih umum mengenai kebiasaan tidur yang sehat dan tanda-tanda klinis, yang dapat menyebabkan diagnosis tertunda:

  • 50% responden menganggap rasa mengantuk pada siang hari sebagai “bagian normal dari kehidupan kerja yang sibuk”.
  • 25% percaya bahwa jeda singkat dalam bernapas saat tidur tidak berbahaya.
  • 24% percaya bahwa dengkuran keras dan teratur merupakan tanda tidur yang nyenyak dan sehat.

Lebih dari 80% tenaga kerja menyadari bahwa mengorbankan waktu tidur bukanlah suatu kebajikan, tetapi hampir 1 dari 5 orang masih merasa bahwa kebutuhan tidur yang sedikit merupakan tanda etos kerja yang kuat.

Di antara individu yang sudah masuk dalam kategori risiko tinggi Sleep Apnea, mitos-mitos tersebut bahkan lebih kuat: 52% percaya bahwa dengkuran keras merupakan hal yang sehat dan 54% menganggap gangguan pernapasan tidak berbahaya. Hal ini menunjukkan bahwa banyak individu berisiko tinggi tanpa sadar meyakinkan diri mereka sendiri bahwa mereka baik-baik saja sehingga tidak mencari bantuan.

Seruan untuk Meningkatkan Kesehatan Tidur di Tempat Kerja

Meskipun 72% karyawan menyatakan keinginan untuk memiliki jam kerja yang fleksibel guna mengelola tidur mereka, para pakar kesehatan menekankan bahwa penyesuaian jadwal saja tidak dapat mengatasi gangguan tidur klinis seperti Sleep Apnea. Sebaliknya, dukungan yang dapat ditindaklanjuti membutuhkan deteksi dini dan intervensi klinis.

“Kesehatan tidur tidak lagi dapat dipandang semata-mata sebagai pilihan gaya hidup pribadi; kesehatan tidur merupakan persoalan kesehatan di tempat kerja yang sangat penting karena berdampak langsung pada keselamatan, pengambilan keputusan, dan kesehatan kardiovaskular jangka panjang,” kata Yvonne Loo, Group Director di Easmed.

“Tujuan kami menugaskan survei ini adalah mengurangi hambatan dalam melakukan skrining. Hambatan struktural seperti biaya diagnosis klinis (51%) dan kebingungan mengenai tempat untuk mencari bantuan (36%) dapat dengan mudah diatasi melalui tes tidur di rumah yang mudah diakses serta kemitraan program kesehatan dan kebugaran perusahaan.”

Jelajahi lebih banyak hasil survei di: www.easmed.com/sgsleepsurvey2026

Tentang Survei

Survei “Sleeping Enough, Waking Up Tired: The Hidden Cost of Sleep Apnea Risk in Singapore’s Workforce” ditugaskan bersama oleh Easmed dan The Air Station, yang menggabungkan dua perspektif yang saling melengkapi dalam bidang kesehatan tidur—di satu sisi inovasi medis dan perawatan klinis, dan di sisi lain kesehatan tidur konsumen, skrining, serta dukungan pengobatan.

Baca lebih lanjut mengenai survei kesehatan tidur di: www.easmed.com/sgsleepsurvey2026

https://www.easmed.com/sgsleepsurvey2026
https://www.linkedin.com/company/easmed/posts/?feedView=all
https://www.facebook.com/EasmedAsia
https://www.instagram.com/easmed/?hl=en

Tentang Easmed

Easmed adalah perusahaan teknologi medis yang berkantor pusat di Singapura dengan fokus jangka panjang pada pengembangan ilmu kedokteran tidur di Asia Tenggara. Bekerja sama secara erat dengan para profesional dan institusi kesehatan, Easmed menyediakan teknologi medis dan bedah di bidang Kedokteran Tidur, THT (Telinga, Hidung, Tenggorokan), Neurologi, dan Urologi.

Dalam bidang kedokteran tidur, Easmed berfokus pada solusi pengobatan canggih untuk Obstructive Sleep Apnea (OSA) atau apnea tidur obstruktif. Portofolionya mencakup Inspire® hypoglossal nerve stimulation, yaitu pilihan pengobatan implan bagi pasien OSA yang memenuhi kriteria tertentu, yang mencerminkan keterlibatan perusahaan dalam berbagai pendekatan, baik yang telah mapan maupun yang sedang berkembang, untuk menangani apnea tidur.

Di luar teknologi medis, Easmed secara aktif mendukung penelitian klinis, edukasi, dan peningkatan kesadaran masyarakat mengenai kesehatan tidur. Perusahaan bekerja sama dengan para spesialis tidur dan tenaga profesional kesehatan untuk meningkatkan pemahaman mengenai OSA, dampaknya terhadap kesehatan, serta pentingnya mengenali dan melakukan intervensi lebih awal.

Penugasan Singapore Sleep Health Report merupakan kelanjutan dari upaya tersebut—dengan menggunakan data lokal untuk memahami secara lebih baik bagaimana tidur dan gangguan tidur yang belum terdiagnosis dapat memengaruhi tenaga kerja di Singapura, sekaligus mendorong pembicaraan yang lebih luas mengenai tidur sebagai salah satu pilar penting kesehatan.

Ikuti Easmed di media sosial:

  • Instagram: @easmed
  • Facebook: @easmed
  • LinkedIn: @easmed

Tentang The Air Station

The Air Station adalah perusahaan kesehatan tidur yang berorientasi langsung kepada konsumen dan berbasis di Singapura, yang menyediakan layanan terpadu mulai dari upaya mendapatkan tidur yang lebih baik dan skrining dini hingga diagnosis, pengobatan, serta dukungan berkelanjutan.

Layanannya mencakup solusi kesehatan tidur, skrining kesehatan tidur, pemeriksaan tidur di rumah, serta berbagai pilihan pengobatan untuk apnea tidur, termasuk alat bantu tidur dental dan terapi CPAP, yang merupakan pengobatan lini pertama yang telah mapan bagi banyak pasien dengan OSA.

The Air Station juga berupaya membawa pemahaman mengenai kesehatan tidur melampaui lingkungan klinis. Melalui seminar kesehatan tidur di perusahaan, edukasi masyarakat, inisiatif skrining, dan program kesehatan tidur, perusahaan bertujuan membuat kesehatan tidur lebih mudah dipahami dan ditindaklanjuti oleh masyarakat.

Pendekatan ini mengakui bahwa kualitas tidur yang buruk berada dalam suatu spektrum: bagi sebagian orang, kebiasaan tidur yang lebih baik dan intervensi untuk meningkatkan kesehatan tidur mungkin dapat membantu; sementara bagi orang lain, dengkuran yang terus-menerus, rasa kantuk berlebihan pada siang hari, atau gangguan pernapasan mungkin memerlukan skrining dan pemeriksaan medis.

Bersama-sama, Easmed dan The Air Station menghubungkan sisi klinis dan sisi konsumen dalam bidang kesehatan tidur—mulai dari inovasi medis dan edukasi bagi tenaga profesional kesehatan hingga peningkatan kesadaran masyarakat, skrining, serta jalur praktis untuk mendapatkan perawatan.

Studi yang mereka lakukan bersama terhadap 1.000 orang dewasa yang bekerja di Singapura menemukan bahwa sekitar 1 dari 4 orang yang menjalani skrining berada pada risiko OSA tingkat menengah hingga tinggi, sementara 60% responden belum pernah mendengar tentang OSA atau hanya mengenalnya sebatas nama. Temuan tersebut juga menyoroti hubungan antara kualitas tidur yang buruk dan kinerja di tempat kerja, dengan 97% responden melaporkan adanya penurunan produktivitas setelah mengalami tidur malam yang buruk.

Kedua organisasi tersebut berharap temuan ini dapat mendorong para pemberi kerja, tenaga profesional kesehatan, dan masyarakat untuk tidak hanya bertanya, “Apakah kita sudah cukup tidur?”, tetapi juga mulai bertanya, “Apakah kita tidur dengan baik—dan mungkinkah ada gangguan yang mendasarinya yang tidak disadari?”

Ikuti The Air Station di media sosial:

Instagram:@theairstation_sg
Facebook:@theairstationsg
LinkedIn:@the Air Station
Youtube:@theairstation_
TikTok:@theairstation