BANGKOK, THAILAND – Media OutReach Newswire – 10 September 2026 – Di dunia saat ekonomi digerakkan oleh pengetahuan, teknologi, dan kreativitas, “inovasi” telah menjadi faktor krusial dalam meningkatkan daya saing nasional di seluruh dunia. Salah satu tolok ukur yang diakui secara internasional untuk mengevaluasi potensi inovasi adalah Global Innovation Index (GII), yang diterbitkan oleh World Intellectual Property Organization (WIPO) berkolaborasi dengan jaringan mitra internasional. Indeks ini mengukur dan membandingkan kapasitas inovasi negara-negara di seluruh dunia melalui berbagai dimensi, termasuk investasi litbang, infrastruktur, pendidikan, kerumitan bisnis, teknologi, dan luaran inovasi.

Keterangan Foto: NIA dan Perannya dalam Menjembatani Riset ke Dunia Bisnis

Menurut laporan GII 2025 yang mengusung tema “Innovation at a Crossroads,” sistem inovasi global sedang mencapai titik balik yang krusial. Hal ini terjadi di tengah pesatnya kemajuan teknologi baru—seperti Kecerdasan Buatan (AI), energi bersih, bioteknologi, dan sistem digital—sementara di saat yang sama negara-negara harus menghadapi tantangan ekonomi, persaingan teknologi, serta pergeseran geopolitik.

Oleh karena itu, GII berfungsi lebih dari sekadar pemeringkatan nasional; indeks ini merupakan alat penting yang mencerminkan kekuatan, kelemahan, dan potensi ekosistem inovasi di setiap negara. Thailand berada di peringkat ke-41 secara global dan terus menunjukkan kinerja di atas ekspektasi relatif terhadap tingkat perkembangan ekonominya (Inovator Unggul) dalam kelompok pendapatan menengah ke atas. Negara ini menunjukkan potensi inovasi yang kuat, terutama dalam infrastruktur digital, pengembangan bisnis inovatif, dan keterkaitan pengetahuan antara akademisi dan industri.

Pemeringkatan ini menyoroti kemajuan Thailand menuju ekonomi berbasis inovasi melalui promosi penelitian dan pengembangan, dukungan bagi wirausahawan inovatif dan startup, serta penguatan ekosistem inovasi nasional. Organisasi kunci seperti National Innovation Agency (Public Organization) atau NIA memainkan peran penting dalam menjembatani kolaborasi antara universitas, sektor swasta, dan lembaga pemerintah untuk memastikan penelitian dan teknologi dapat diterapkan secara komersial.

Salah satu indikator inovasi utama dalam GII adalah “Kolaborasi Litbang Universitas–Industri,” yang mencerminkan kedalaman penelitian dan pengembangan bersama antara lembaga akademik dan sektor industri—sebuah pendorong mendasar untuk menciptakan inovasi dan mempertahankan daya saing nasional jangka panjang.

Dr. Krithpaka Boonfueng, Direktur Eksekutif National Innovation Agency (NIA), menjelaskan bahwa NIA bertindak sebagai “Perantara Inovasi” yang sangat penting di antara akademisi, perusahaan swasta, sektor pemerintah, dan lembaga keuangan. Misi NIA adalah memfasilitasi penerjemahan pengetahuan, penelitian, dan teknologi menjadi manfaat komersial dan sosial yang nyata. Saat ini, tantangan utama Thailand bukanlah kekurangan penelitian, melainkan “kesenjangan” antara penelitian akademik dan penerapannya di industri. Banyak proyek penelitian universitas memiliki potensi tinggi tetapi kekurangan mekanisme pendukung untuk pembuatan prototipe bisnis, pengujian pasar, atau penghubungan dengan wirausahawan dan investor. Oleh karena itu, peran NIA sangat penting dalam membangun platform dan program dukungan yang memungkinkan kolaborasi efisien antara universitas dan sektor bisnis.

NIA mendukung Kolaborasi Litbang Universitas–Industri di berbagai dimensi, termasuk menyediakan hibah inovasi, menginkubasi dan mengakselerasi startup teknologi mendalam (deep-tech), menciptakan jaringan kolaboratif antara universitas dan entitas swasta, serta mempromosikan Ekosistem Inovasi di sektor-sektor strategis seperti FoodTech, AgTech, HealthTech, ClimateTech, dan Deep Tech. Bidang-bidang ini sangat bergantung pada penggabungan keahlian akademik dengan kapabilitas pasar dan investasi industri.

Selain itu, NIA secara aktif mempromosikan “Inovasi Terbuka” dan “Kreativitas Bersama” (Co-Creation)—konsep inti yang sejalan dengan arah GII 2025, yang menunjukkan bahwa sistem inovasi global sedang memasuki era kolaborasi multipemangku kepentingan dan kreasi bersama. NIA menciptakan platform untuk mencocokkan permintaan industri dengan kapabilitas penelitian universitas, sekaligus mendukung kegiatan seperti Hackathon, Program Akselerator, Bootcamp Inovasi, dan Regulatory Sandbox untuk menguji inovasi di lingkungan dunia nyata.

Tanggung jawab penting lainnya adalah mengembangkan “Perusahaan Berbasis Inovasi” dan “Startup” yang berasal dari penelitian universitas (University Spin-off). Spin-off berfungsi sebagai pendorong utama di negara-negara inovatif seperti Amerika Serikat, Korea Selatan, dan Tiongkok dalam mengubah pengetahuan universitas menjadi perusahaan teknologi global. NIA menawarkan dukungan tahap awal mulai dari pengembangan model bisnis dan akses modal hingga jaringan investor serta koneksi pasar secara lokal maupun internasional.

Tren dalam GII 2025 menunjukkan bahwa negara-negara dengan kolaborasi universitas-industri yang kuat secara konsisten menghasilkan inovasi berkelanjutan dan mempertahankan daya saing yang tinggi. Oleh karena itu, NIA beroperasi bukan hanya sebagai lembaga pendukung inovasi, melainkan sebagai “mekanisme sistemik” yang menjembatani kesenjangan antara penelitian dan bisnis, menghubungkan pengetahuan dengan permintaan pasar, serta mengarahkan Thailand menuju ekonomi berbasis pengetahuan jangka panjang.

Pada akhirnya, meningkatkan kinerja Thailand dalam indikator Kolaborasi Litbang Universitas–Industri memerlukan upaya terpadu antara universitas, sektor swasta, entitas pemerintah, dan organisasi pemungkin inovasi seperti NIA. Bersama-sama, mereka membangun ekosistem komprehensif yang mencakup penciptaan pengetahuan, penelitian, pengujian, investasi, dan perluasan pasar—membentuk fondasi kokoh untuk meningkatkan daya saing negara di masa depan.

Pelajaran yang Dipetik: Keberhasilan Startup melalui Kolaborasi Litbang Universitas–Industri

Bapak Krerkchai Panyabaramee, Managing Director Tleum Co., Ltd., membagikan bahwa penerapan komersial teknologi material maju—yang berasal dari litbang oleh Dr. Supan Yodyingyong dari Institute for Innovative Learning, Mahidol University, pemilik paten “Sintesis Silica Aerogel dari Larutan Natrium Silikat pada Tekanan Atmosfer”—menjadi studi kasus nyata dari Kolaborasi Litbang Universitas–Industri. Bisnis ini berawal dari penerjemahan penelitian skala percontohan tentang Silica Aerogel di dalam universitas menjadi manufaktur skala industri yang bermitra dengan sektor swasta.

Saat ini, Tleum Co., Ltd. telah berhasil mengomersialkan Silica Aerogel menjadi berbagai macam produk, termasuk cat pemantul panas untuk bangunan dan aplikasi industri, semen dan material tahan panas, penyerap minyak untuk penanggulangan tumpahan, hingga bahan kosmetik. Hal ini menunjukkan potensi luar biasa dari Deep Tech Thailand dalam penciptaan nilai melalui material maju dan penelitian kolaboratif.

Keberhasilan ini tidak dicapai oleh satu entitas saja, melainkan melalui sinergi akademisi, bisnis, dan badan pendukung seperti NIA. NIA hadir untuk menjembatani kesenjangan pengetahuan, menyediakan sumber daya, dan memitigasi risiko pengembangan teknologi, sehingga memungkinkan wirausahawan mengatasi keterbatasan biaya, pengujian, dan peningkatan skala secara cepat. Ini menyoroti peran NIA sebagai “Jembatan Inovasi” yang mengubah penelitian akademik menjadi kenyataan komersial.

Dr. Krithpaka menyimpulkan: “Indikator ‘Kolaborasi Litbang Universitas–Industri’ di bawah Pilar 5: Kerumitan Bisnis mengukur tingkat kolaborasi litbang antara universitas dan industri di setiap negara. Indikator ini mengandalkan data dari Survei Opini Eksekutif yang dilakukan oleh World Economic Forum (WEF), yang menilai persepsi pemimpin bisnis mengenai kualitas dan efektivitas upaya litbang bersama—khususnya seberapa baik upaya tersebut memenuhi kebutuhan industri, mencapai penerapan praktis, dan menghasilkan nilai ekonomi.”

Oleh karena itu, indikator ini tidak hanya mengevaluasi volume karya ilmiah atau proyek bersama; indikator ini mencerminkan kapasitas suatu negara untuk mengubah pengetahuan menjadi dampak ekonomi melalui kolaborasi lintas sektor—sebuah ciri utama dari ekosistem inovasi yang matang.

Kasus Tleum Co., Ltd. menjadi ilustrasi jelas dari konsep ini. Dengan melisensikan penelitian skala percontohan dan paten Silica Aerogel, sektor swasta meningkatkan skala teknologi tersebut ke dalam produksi industri penuh, menghasilkan berbagai produk komersial secara global—mulai dari pelapis pemantul panas dan bahan tahan panas hingga penyerap minyak dan kosmetik.

Hasil ini mempertegas pentingnya NIA sebagai Perantara Inovasi yang mengurangi risiko teknis dan keuangan bagi bisnis. Di luar kasus ini, NIA terus mendorong berbagai inisiatif—pendanaan, pembentukan jaringan, inkubasi startup teknologi, dan University Spin-off—memastikan inovasi akademik diterjemahkan menjadi produk, layanan, dan usaha baru yang siap pasar yang memberikan dampak ekonomi nyata serta memperkuat posisi daya saing jangka panjang Thailand.

https://www.nia.or.th