93% konsumen di Asia-Pasifik diam-diam menghentikan keterlibatan mereka ketika kepercayaan hilang. Agen AI baru “Believability Agent” mampu memprediksi dan mencegah pelanggan meninggalkan merek secara diam-diam.

SINGAPURA – Media OutReach Newswire – 2 Juli 2026 – Ogilvy hari ini merilis APAC 2026 Believability Index: The Power of Proof, studi komprehensif pertamanya yang mengkaji bagaimana konsumen di kawasan Asia-Pasifik menentukan apa dan siapa yang mereka percayai di tengah lingkungan informasi yang semakin kompleks. Penelitian yang dilakukan bekerja sama dengan YouGov ini melibatkan 7.176 responden dari Australia, Indonesia, Singapura, Malaysia, Filipina, Hong Kong SAR, dan Tiongkok Daratan.

Laporan tersebut mengungkap bahwa banyak organisasi mengabaikan titik buta dalam reputasi yang secara langsung berdampak pada pendapatan. Sebanyak 93% konsumen di Asia-Pasifik diam-diam menghentikan keterlibatan mereka ketika kepercayaan terhadap suatu merek atau organisasi hilang, dan hampir separuhnya (48%) berhenti membeli produk atau layanannya sama sekali. Menanggapi temuan tersebut, Ogilvy juga meluncurkan Believability Agent, sebuah alat diagnostik berbasis kecerdasan buatan (AI) yang dirancang untuk membantu para pemimpin tingkat C-Suite mengidentifikasi serta menutup kesenjangan yang berdampak pada kinerja bisnis.

Richard Brett, Presiden Ogilvy PR APAC, mengatakan, “Di tengah maraknya konten AI berkualitas rendah (AI slop) dan konten sintetis yang mengubah lanskap komunikasi, kepercayaan telah berkembang dari sekadar tantangan hubungan masyarakat (PR) menjadi kebutuhan bisnis yang sangat penting. Metrik reputasi tradisional tidak lagi mampu menggambarkan keseluruhan situasi karena risiko terbesar kini sering kali tidak terlihat. Biaya sebenarnya dari hilangnya kepercayaan bukan lagi diukur dari pemberitaan negatif, melainkan dari hilangnya pendapatan. Organisasi yang akan berhasil pada 2026 adalah mereka yang menyadari bahwa tindakan nyata dalam operasional jauh lebih penting daripada sekadar pernyataan resmi.”

Temuan Utama dari Ogilvy APAC 2026 Believability Index

  • Ancaman terbesar terhadap reputasi adalah konsumen yang diam-diam pergi.
    Konsumen jauh lebih cenderung meninggalkan sebuah organisasi tanpa menyampaikan kritik secara terbuka. Penelitian menemukan bahwa 93% konsumen yang kehilangan kepercayaan memilih untuk menghentikan keterlibatan secara diam-diam, sementara hanya 55% yang melakukannya secara terbuka, termasuk hanya 10% yang akan membagikan pengalaman negatif mereka melalui media sosial.
  • Kompetensi lebih penting daripada tujuan atau nilai perusahaan.
    Di seluruh kawasan Asia-Pasifik, sebanyak 42% konsumen menghentikan hubungan mereka dengan suatu organisasi dalam satu tahun terakhir karena produk atau layanan gagal memenuhi janji utamanya. Sebagai perbandingan, hanya 29% yang berhenti berinteraksi karena etika bisnis yang buruk. Temuan ini menegaskan bahwa kompetensi operasional tetap menjadi fondasi utama dalam membangun kredibilitas.
  • Kepercayaan dibangun dengan cara yang berbeda di setiap pasar Asia-Pasifik.
    Konsumen di berbagai negara memiliki cara berbeda dalam menilai kredibilitas. Pasar seperti Singapura dan Malaysia lebih menaruh kepercayaan pada otoritas institusi dan sumber resmi, sementara konsumen di Australia dan Filipina lebih mengandalkan pengalaman langsung atau rekomendasi dari sesama konsumen (lived experience). Temuan ini menunjukkan bahwa strategi komunikasi regional yang seragam berisiko tidak efektif.
  • Tindakan nyata lebih efektif memulihkan kepercayaan dibandingkan sekadar permintaan maaf.
    Meskipun 85% konsumen menyatakan bahwa kepercayaan yang hilang masih dapat dipulihkan, mereka kini semakin mengharapkan adanya perbaikan operasional yang nyata sebelum permintaan maaf dari perusahaan disampaikan. Lebih dari separuh responden (57%) menyebutkan bahwa langkah paling penting untuk membangun kembali kepercayaan adalah memperbaiki masalah yang terjadi secara langsung.

Untuk membantu para pemimpin organisasi menghadapi perubahan ini sekaligus menerapkan temuan penelitian ke dalam praktik bisnis, Ogilvy PR meluncurkan Believability Diagnostic Tool, sebuah alat diagnostik berbasis agen AI tingkat perusahaan yang dikembangkan dan dioperasikan melalui platform WPP Open. Dengan memanfaatkan arsitektur multi-agent yang menggabungkan basis data eksklusif Believability milik Ogilvy selama tujuh tahun dengan mesin kognitif berbasis ilmu perilaku, alat ini menganalisis “Say-Do Gap”, yaitu kesenjangan antara janji yang disampaikan melalui pemasaran dengan realitas operasional perusahaan. Dengan membandingkan pesan perusahaan terhadap sentimen pelanggan dan karyawan yang telah terverifikasi, alat ini menghitung “Believability Elasticity” atau elastisitas kepercayaan sebuah merek, sehingga para pemimpin dapat memprediksi dan mencegah pelanggan meninggalkan merek secara diam-diam sebelum berdampak pada kinerja keuangan perusahaan.

Laporan lengkap Ogilvy APAC 2026 Believability Index: The Power of Proof dapat diunduh melalui tautan yang telah disediakan.

Tentang Ogilvy PR

Ogilvy PR and Influence adalah agensi komunikasi kreatif global yang bermitra dengan berbagai organisasi untuk mendorong penciptaan nilai dan pertumbuhan bisnis. Perusahaan ini membantu membangun merek, melindungi reputasi, serta meningkatkan perhatian dan pengaruh melalui pendekatan storytelling kreatif yang didukung oleh data dan teknologi. Layanan spesialisnya mencakup hubungan media, komunikasi digital dan media sosial, komunikasi dengan pemangku kepentingan eksternal maupun internal, manajemen isu dan krisis, serta keterlibatan para pemangku kepentingan. Ogilvy PR juga merupakan konsultan hubungan masyarakat dan urusan publik terbesar sekaligus paling terspesialisasi di kawasan Asia-Pasifik.

Tentang YouGov

Seluruh data dalam laporan ini, kecuali dinyatakan lain, berasal dari YouGov Plc. Total responden yang terlibat berjumlah 7.176 orang dewasa dari Australia, Indonesia, Singapura, Malaysia, Filipina, Hong Kong SAR, dan Tiongkok Daratan. Pengumpulan data dilakukan secara daring pada periode 22 April hingga 4 Mei 2026. Seluruh data telah melalui proses pembobotan sehingga mewakili populasi orang dewasa (berusia 18 tahun ke atas) di masing-masing pasar yang disurvei.