GUILIN, TIONGKOK – Media OutReach Newswire – 22 Juli 2026 – Dikenal di seluruh dunia karena lanskap karstnya yang spektakuler, Guilin telah lama menjadi salah satu destinasi wisata paling ikonik di Tiongkok selatan. Seiring dengan kian meningkatnya keinginan para wisatawan untuk membangun hubungan yang lebih dalam dengan masyarakat lokal, pedesaan Guilin menawarkan cara berbeda dalam menikmati suasana alam pedalaman. Di sini, para pengunjung bukan sekadar pengamat pemandangan — mereka menjadi bagian darinya, menyusuri terasering sawah, bersepeda di sepanjang sungai, mencicipi kuliner lokal, dan menemukan tradisi-tradisi yang terus berkembang berdampingan dengan alam dari generasi ke generasi.

Dalam musim terbaru Village Voyage, pembawa acara CGTN asal Amerika Serikat, Julian Waghann, bersama wisatawan asal Filipina, Eliza Arce, melakukan perjalanan ke Longsheng dan Yangshuo untuk menjelajahi bagaimana pegunungan, sungai, dan masyarakat Guilin terus menginspirasi gaya hidup pedesaan yang unik.
Terasering yang Dibentuk oleh Kebijaksanaan Bertani Lintas Generasi
Menjulang tinggi di pegunungan Guangxi, Terasering Sawah Longji jauh lebih dari sekadar pemandangan pertanian yang menakjubkan. Dipahat di lereng-lereng bukit selama berabad-abad oleh generasi masyarakat lokal, terasering ini mewujudkan keseimbangan yang luar biasa antara keahlian manusia dan dunia alam.
Bagi warga lokal, Liao Yanmei, terasering ini tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. “Terasering ini berarti segalanya bagi kami,” ujarnya. “Ini adalah hidup kami.” Saat ini, ia memimpin upaya untuk merawat dan melestarikan terasering kuno tersebut, memastikan warisan hidup ini terus berkembang pesat bagi generasi mendatang.
Julian dan Eliza tiba saat Festival Shuyang, salah satu perayaan pertanian tahunan terpenting di Longsheng. Menyusuri jalan setapak yang sempit di antara areal persawahan, mereka bergabung dengan warga desa dalam ritual tradisional melempar bibit padi dan membawa obor melintasi terasering yang diterangi cahaya saat malam tiba.
Bagi Eliza, pemandangan ini membangkitkan kenangan akan Terasering Sawah Banaue di tanah airnya, Filipina. “Terasering itu berada di bagian utara Filipina,” katanya. “Terasering tersebut juga dipahat di pegunungan oleh masyarakat lokal. Saya terkagum-kagum melihat betapa miripnya budaya terasering sawah kita. Hal ini membuat saya menyadari bahwa kita memiliki akar budaya yang sama. Dan, pada saat itu, saya benar-benar merasa seperti berada di rumah sendiri.”
Melalui perjumpaan-perjumpaan ini, Julian dan Eliza menemukan bahwa Festival Shuyang tidak lagi hanya menandai dimulainya musim tanam. Perayaan ini juga telah menjadi pengalaman budaya yang mendalam (immersive), yang mengundang para pengunjung untuk melangkah masuk ke dalam irama kehidupan pedesaan dan menemukan cara baru dalam menikmati kawasan pedesaan Tiongkok.
Rasia di Balik Desa Rambut Panjang Dunia
Jauh di dalam Terasering Sawah Longji terletak Desa Yao Huangluo, rumah bagi suku Red Yao yang terkenal dengan tradisi rambut panjangnya yang telah berusia ratusan tahun. Selama bergenerasi-generasi, para wanita Red Yao merawat rambut panjang dan berkilau mereka yang terkenal menggunakan air beras fermentasi, sebuah perawatan rambut alami yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
“Rambut panjang, dalam budaya Red Yao, melambangkan umur panjang dan kemakmuran,” kata duta budaya lokal, Haili. “Kami percaya bahwa rambut yang sehat mencerminkan tubuh yang sehat, yang membawa umur panjang sekaligus keberuntungan.”
Memanfaatkan pengetahuan ekologis bertahun-tahun, suku Red Yao telah lama menggunakan air beras bersama dengan tanaman herbal lokal untuk membuat resep perawatan rambut alami. Berakar dari lingkungan sekitar, tradisi ini mencerminkan cara hidup berkelanjutan yang menghargai sumber daya alam dan menghormati irama lingkungan.
Selain tradisi rambut panjang mereka, suku Red Yao juga sama terkenalnya atas kerajinan pakaian tradisional mereka yang indah. Menurut maestro perajin Pan Jifeng, menyelesaikan satu stel pakaian tradisional bisa memakan waktu hingga satu tahun penuh. Proses menenun, membatik, pewarnaan alami, dan sulaman yang rumit menyatu dalam pakaian yang motifnya terinspirasi dari pegunungan, hewan, dan kehidupan sehari-hari—menjaga ingatan budaya dari generasi ke generasi.
Melampaui Pemandangan Alam: Cara Baru Menikmati Pedesaan Guilin
Meskipun Guilin telah lama menarik pengunjung dengan pemandangannya yang ikonik, generasi wisatawan baru kini mulai menjelajahi wilayah tersebut melalui pengalaman yang lebih mendalam.
Di Yangshuo, pegunungan dan sungai telah menjadi arena bermain untuk eksplorasi luar ruangan. Bersepeda menyusuri jalan-jalan pedesaan, mendaki di antara puncak-puncak karst, menyusuri sungai dengan rakit bambu, dan merasakan petualangan di tebing memberi kesempatan bagi pengunjung untuk berinteraksi langsung dengan alam, bukan sekadar mengaguminya.
Didukung oleh transportasi yang nyaman, beragam aktivitas luar ruangan, dan fasilitas pariwisata yang terus berkembang, Yangshuo muncul sebagai destinasi internasional di mana alam, budaya, dan kehidupan lokal menyatu.
Lebih dari Sekadar Perjalanan: Desa-Desa yang Terhubung oleh Alam dan Budaya
Setiap desa menceritakan kisahnya sendiri.
Beberapa kisah tertulis di pegunungan, yang lain di aliran sungai. Sebagian tetap hidup melalui lagu dan festival, sementara yang lain bertahan melalui tradisi sehari-hari yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Dari terasering sawah hingga lanskap Karst, Guilin menunjukkan bagaimana masyarakat pedesaan terus tumbuh dari alam yang membentuk mereka — menyambut pengunjung baru sambil terus menjaga cerita mereka tetap hidup.
Recent Comments