- Persaingan meningkat menjadi risiko utama, mencerminkan semakin ketatnya pasar, sementara akuntabilitas keselamatan kerja tetap tinggi di tengah lingkungan regulasi yang semakin ketat.
- Risiko likuiditas dan bencana alam menunjukkan meningkatnya tekanan terhadap ketahanan finansial.
SEOUL, KOREA SELATAN – Media OutReach Newswire – 30 Juni 2026 – Aon plc (NYSE: AON), perusahaan jasa profesional global terkemuka, hari ini merilis temuan dari Korea Selatan dalam Global Risk Management Survey 2025. Hasilnya menunjukkan bahwa persaingan bisnis, akuntabilitas keselamatan kerja, dan tekanan finansial menjadi faktor utama yang membentuk agenda risiko di negara tersebut.
Survei ini mengumpulkan respons dari hampir 3.000 organisasi di 63 negara dan 16 industri, serta menyoroti lingkungan risiko yang dipengaruhi oleh transformasi digital, ketidakpastian ekonomi, tekanan geopolitik, dan paparan perubahan iklim.
Persaingan Jadi Risiko Utama di Korea Selatan
Menurut hasil survei, “peningkatan persaingan” menjadi risiko nomor satu bagi organisasi di Korea Selatan, dibandingkan posisi kelima secara global. Risiko ini juga diprediksi tetap menjadi ancaman utama dalam tiga tahun ke depan. Temuan ini mencerminkan tekanan dalam lingkungan pasar Korea Selatan, di mana pasar domestik yang relatif terkonsentrasi serta tingginya kepadatan industri mendorong tingkat persaingan yang berkelanjutan.
Separuh responden di Korea Selatan melaporkan kerugian finansial akibat persaingan, lebih tinggi dibanding rata-rata kawasan Asia Pasifik (44,1%) maupun rata-rata global (42,8%). Namun demikian, hanya 17,4% organisasi yang memiliki rencana formal atau evaluasi khusus terkait risiko persaingan, menunjukkan masih adanya peluang besar untuk meningkatkan kesiapan manajemen risiko.
Bagi bisnis di Korea Selatan, persaingan tidak lagi sekadar isu komersial, tetapi telah menjadi faktor yang secara langsung memengaruhi hasil keuangan, termasuk tekanan margin, kapasitas investasi, dan pertumbuhan jangka panjang. Dinamika ini berkaitan erat dengan ketahanan finansial, di mana persaingan yang berkelanjutan meningkatkan pentingnya likuiditas serta keputusan alokasi modal untuk mempertahankan posisi pasar.
“Profil risiko Korea menunjukkan bagaimana tekanan struktural pasar berubah menjadi dampak bisnis yang nyata,” kata Terence Williams, Head of Commercial Risk Aon untuk APAC. “Persaingan, regulasi, dan volatilitas keuangan semakin saling terkait, sehingga dibutuhkan strategi risiko yang lebih terintegrasi antara ketahanan bisnis, modal, dan keputusan pertumbuhan.”
Keselamatan Kerja Tetap Menjadi Isu Utama
Risiko kecelakaan kerja masih berada di jajaran teratas bagi organisasi di Korea Selatan, didorong oleh penegakan regulasi yang lebih ketat serta meningkatnya akuntabilitas perusahaan dan manajemen senior di bawah perluasan Serious Accidents Punishment Act.
Hasil survei menunjukkan bahwa 64,3% organisasi telah memiliki rencana atau evaluasi formal terkait cedera kerja, sementara lebih dari separuh (57,1%) sedang mengevaluasi solusi asuransi atau transfer risiko untuk menghadapi eksposur ini. Hal ini menunjukkan bahwa keselamatan kerja kini tidak hanya dipandang sebagai kewajiban kepatuhan, tetapi juga sebagai prioritas tata kelola dan finansial yang penting.
Ketahanan Finansial Semakin Penting
Risiko bencana alam dan likuiditas semakin meningkat dalam profil risiko Korea Selatan. Risiko cuaca dan bencana alam menempati posisi keenam dalam daftar risiko saat ini, sementara risiko arus kas dan likuiditas kembali masuk 10 besar untuk pertama kalinya sejak 2019.
Meski Korea Selatan tidak sepapar beberapa negara lain di Asia Pasifik terhadap bencana berskala besar, kejadian cuaca ekstrem terbaru tetap menimbulkan kerugian ekonomi signifikan, termasuk kebakaran hutan dan banjir pada tahun 2025.
Di saat yang sama, tekanan arus kas dan likuiditas meningkat akibat volatilitas makroekonomi, ketidakpastian perdagangan, dan tekanan persaingan yang berkelanjutan. Data survei menunjukkan bahwa 78,6% organisasi di Korea Selatan telah memiliki rencana atau evaluasi formal untuk risiko likuiditas—tingkat kesiapan tertinggi di antara seluruh risiko utama. Temuan ini menunjukkan bahwa likuiditas sangat terkait dengan daya saing, di mana investasi berkelanjutan dalam talenta, ekspansi, dan teknologi menjadi kunci mempertahankan posisi pasar.
Sepuluh Risiko Utama Bisnis di Korea Selatan 2025
Berikut daftar 10 risiko utama yang membentuk lingkungan bisnis Korea Selatan saat ini:
- Peningkatan persaingan
- Perlambatan ekonomi/pemulihan lambat
- Gangguan bisnis
- Cedera kerja
- Kerusakan properti
- Cuaca/bencana alam
- Perubahan regulasi/perundang-undangan
- Fluktuasi nilai tukar
- Risiko arus kas/likuiditas
- Serangan siber/kebocoran data
Prospek Risiko Masa Depan
Temuan survei menunjukkan bahwa bisnis di Korea Selatan menghadapi lanskap risiko yang semakin kompleks, dipengaruhi oleh tekanan domestik dan gangguan global. “Peningkatan persaingan” tetap menjadi risiko masa depan terbesar, sementara serangan siber dan kebocoran data terus meningkat seiring adaptasi perusahaan terhadap lingkungan operasional yang berubah.
Ke depan, risiko-risiko tersebut diperkirakan akan berkembang seiring perusahaan memposisikan diri untuk pertumbuhan:
- Peningkatan persaingan
- Perlambatan ekonomi/pemulihan lambat
- Cedera kerja
- Perubahan regulasi/perundang-undangan
- Serangan siber/kebocoran data
Kebutuhan Meningkat akan Manajemen Risiko Berbasis Data
Temuan ini menunjukkan adanya peluang besar bagi organisasi di Korea Selatan untuk memperkuat cara mereka mengukur, mengelola, dan menghubungkan risiko dengan pengambilan keputusan strategis. Dibandingkan dengan negara lain, adopsi kerangka kerja manajemen risiko tingkat perusahaan dan analisis kuantitatif masih relatif terbatas.
Sebagai contoh, hanya 22,2% organisasi yang telah melakukan penilaian terhadap risiko peningkatan persaingan, dan jumlah yang sama juga memiliki rencana keberlangsungan bisnis atau manajemen risiko untuk risiko tersebut.
Risiko siber terlihat lebih matang, dengan 33,3% organisasi telah memiliki rencana keberlangsungan untuk menghadapi ancaman siber.
Secara lebih luas, hanya 25% organisasi di Korea Selatan yang menggunakan proses terstruktur tingkat perusahaan untuk mengidentifikasi risiko utama, dan hanya 2,9% yang menggunakan alat analitik kuantitatif untuk memodelkan skenario risiko serta strategi asuransi.
“Survei ini menunjukkan adanya peluang besar bagi organisasi di Korea Selatan untuk memperkuat manajemen risiko dan kemampuan analitik,” kata Kevin Kim, CEO Aon Korea. “Dengan membangun data internal, proses, dan keahlian yang lebih kuat, perusahaan dapat beralih dari sekadar bereaksi terhadap risiko menjadi mengambil keputusan yang lebih percaya diri dan berorientasi ke depan untuk mendukung pertumbuhan dan efisiensi modal.”

Tentang Aon
Aon plc (NYSE: AON) hadir untuk membentuk keputusan yang lebih baik—guna melindungi dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat di seluruh dunia. Melalui wawasan analitik yang dapat ditindaklanjuti, keahlian terintegrasi secara global dalam Risk Capital dan Human Capital, serta solusi yang relevan secara lokal, para karyawan kami memberikan kepada klien di lebih dari 120 negara kejelasan dan kepercayaan diri untuk mengambil keputusan yang lebih baik terkait risiko dan sumber daya manusia, sehingga membantu melindungi dan mengembangkan bisnis mereka.
Ikuti Aon di LinkedIn, X, Facebook, dan Instagram. Tetap mendapatkan informasi terbaru dengan mengunjungi newsroom Aon serta mendaftar untuk menerima pemberitahuan berita di sini.
Recent Comments