BRUSSELS, BELGIA / PARIS, PRANCIS – Media OutReach Newswire – 26 Juni 2026 – Seiring kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) mengubah dinamika kekuatan global, para pemimpin Eropa dan Tiongkok memperingatkan bahwa Uni Eropa (UE) dan Tiongkok harus melampaui persaingan yang bersifat zero-sum (menang-kalah) dan mulai memanfaatkan kekuatan masing-masing yang saling melengkapi dalam tata kelola AI serta penerapan teknologi tersebut di sektor industri.

Seruan agar Eropa dan Tiongkok beralih dari rivalitas teknologi menuju “keterlibatan yang konstruktif” pada era AI menjadi kesimpulan utama dalam Forum Eropa CEIBS ke-12, sebuah forum dialog unggulan yang diselenggarakan di Paris pada 22 Juni dan di Brussel pada 24 Juni. Forum tersebut mempertemukan para pembuat kebijakan, eksekutif industri, dan akademisi.

Dalam pidatonya, mantan Presiden Dewan Eropa, Charles Michel, menegaskan bahwa AI kini bukan lagi sekadar isu teknologi, melainkan telah menjadi persoalan “kedaulatan, kepemimpinan, dan kekuatan”. Ia mengidentifikasi semikonduktor, infrastruktur data, dan kebijakan regulasi sebagai faktor utama yang akan menentukan arah hubungan internasional di masa depan. Meski mengakui persaingan global yang semakin intensif, Michel menyerukan pentingnya “kolaborasi yang bertanggung jawab”. Menurutnya, pendekatan Eropa yang telah matang dalam tata kelola perusahaan dan keamanan data dapat menjadi keunggulan yang memberikan ketahanan jangka panjang.

Forum tersebut juga menyoroti adanya perbedaan strategi yang jelas dalam perkembangan AI global. Amerika Serikat memimpin dalam investasi teknologi AI mutakhir, Tiongkok unggul dalam penerapan AI berskala besar serta pengembangan model open source, sementara Eropa berada di garis depan dalam penyusunan kerangka regulasi. “Semakin ketat persaingan, semakin penting dialog dan kerja sama,” ujar Presiden CEIBS, Wang Hong, seraya menekankan perlunya menjaga keseimbangan dalam tata kelola AI di tingkat global.

Pembicara lain yang turut hadir dalam forum tersebut antara lain Duta Besar Tiongkok untuk Uni Eropa Cai Run dan Menteri Tiongkok untuk Prancis Chen Li.

Sesi diskusi industri yang menghadirkan para eksekutif dari Siemens, EDF, dan sejumlah perusahaan robotika terkemuka semakin menguatkan pendekatan yang pragmatis tersebut. Para ahli dari berbagai sektor, seperti energi, kesehatan, dan manufaktur maju, sepakat bahwa AI berperan sebagai teknologi pendukung yang meningkatkan kemampuan manusia, bukan menggantikannya. Namun, mereka juga mengingatkan bahwa tingginya kebutuhan energi untuk pengembangan AI merupakan tantangan besar sekaligus peluang strategis bagi Tiongkok dan Eropa untuk berinovasi bersama dalam teknologi jaringan listrik (grid) dan energi terbarukan.

Menutup rangkaian forum di Brussel, Co-President (Eropa) CEIBS, Frank Bournois, merangkum semangat yang mengemuka dalam pertemuan di Paris dan Brussel dengan mengatakan, “Persaingan adalah hal yang wajar, tetapi tidaklah cukup. Formula yang benar-benar kita butuhkan adalah persatuan dan kepercayaan.”

Untuk informasi lebih lanjut, silakan mengunjungi situs resmi CEIBS di https://www.ceibs.edu/

.