JENEWA, SWISS – Media OutReach Newswire – 17 Juli 2026 – Otoritas persaingan usaha dari negara-negara BRICS telah membentuk satuan tugas (task force) untuk melakukan penyelidikan sektoral bersama terhadap perdagangan gandum global. Langkah ini menandai babak baru dalam kerja sama kebijakan persaingan usaha di pasar pertanian internasional.

Keputusan tersebut diumumkan dalam diskusi bertajuk “Competition Development in Global Grain Trade: Joint Efforts of BRICS Countries”, yang diselenggarakan oleh BRICS Competition Law and Policy Centre di sela-sela Sidang ke-23 Kelompok Ahli Antarpemerintah UNCTAD tentang Hukum dan Kebijakan Persaingan di Jenewa.

Kegiatan tersebut mencakup pertemuan tertutup antara otoritas persaingan usaha negara-negara BRICS serta diskusi panel terbuka yang menghadirkan para peneliti, akademisi, dan perwakilan organisasi internasional.

Pembahasan difokuskan pada kondisi persaingan di pasar gandum global, meningkatnya pengaruh finansialisasi dan digitalisasi dalam rantai nilai sektor pertanian, serta berbagai instrumen kebijakan untuk meningkatkan transparansi pasar. Para peserta juga meninjau hasil laporan bersama yang disusun oleh BRICS Competition Centre dan UNCTAD, yang pertama kali dipresentasikan pada Konferensi Internasional Persaingan BRICS ke-9 di Cape Town pada 2025.

Studi Pasar Terkoordinasi

Hasil utama dari pertemuan tersebut adalah pembentukan satuan tugas BRICS yang akan mengoordinasikan penyelidikan sektoral bersama mengenai perdagangan gandum global dalam kerangka Kelompok Kerja BRICS untuk Pasar Pangan.

Satuan tugas tersebut akan dipimpin bersama oleh Diogo Thomson, Presiden Administrative Council for Economic Defense (CADE) Brasil, dan Mahmoud Momtaz, Ketua Egyptian Competition Authority (ECA).

Thomson menyambut baik inisiatif tersebut dan mengusulkan agar isu persaingan di perdagangan gandum global menjadi salah satu topik utama dalam Konferensi Internasional Persaingan BRICS berikutnya yang dijadwalkan berlangsung di Brasil pada 2027.

“Brasil merupakan satu-satunya yurisdiksi yang telah meluncurkan penyelidikan terhadap platform perdagangan gandum digital seperti Covantis. Karena itu, saya sangat menyambut baik penyelidikan sektoral ini, yang akan membantu kita memahami lebih baik dampak digitalisasi terhadap rantai pasok gandum serta risiko yang ditimbulkannya bagi persaingan usaha. Saya juga mendukung penggunaan BRICS Competition Centre sebagai platform koordinasi untuk pekerjaan ini,” ujarnya.

Momtaz mengatakan bahwa salah satu kesimpulan utama dari laporan BRICS-UNCTAD adalah besarnya peran aktivitas spekulatif dalam pasar gandum global.

“Salah satu temuan penting dalam laporan yang disampaikan BRICS Competition Centre adalah besarnya pengaruh faktor-faktor spekulatif terhadap perdagangan gandum global. Respons yang paling efektif adalah meningkatkan transparansi pasar. Kita tidak seharusnya menerima kondisi di mana petani hanya memperoleh sebagian kecil dari nilai yang mereka ciptakan, sementara konsumen di Mesir harus membayar harga roti yang sangat mahal. Di mana sebenarnya margin keuntungan tersebut terkumpul, dan siapa yang pada akhirnya menikmatinya? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang harus dijawab melalui penyelidikan sektoral ini,” katanya.

Ia juga mengusulkan agar satuan tugas tersebut mengembangkan perangkat pemantauan harga berbasis kecerdasan buatan (AI) yang mencakup pasar gandum di negara-negara BRICS.

“Perangkat semacam itu akan menyediakan informasi yang dibutuhkan untuk analisis pasar sekaligus menjadi pelengkap penting bagi penyelidikan sektoral bersama,” tambah Momtaz.

Dari Analisis Menuju Rekomendasi Kebijakan

Hardin Ratshisusu, Wakil Komisaris Competition Commission of South Africa, mengatakan bahwa studi tersebut harus mendukung implementasi inisiatif BRICS Grain Exchange yang telah disahkan oleh para pemimpin BRICS melalui Deklarasi Kazan (2024) dan Deklarasi Rio de Janeiro (2025).

“Usulan pembentukan BRICS Grain Exchange harus menjadi salah satu rekomendasi utama dari penyelidikan sektoral ini sebagai mekanisme inovatif untuk memulihkan persaingan di perdagangan gandum global. Tujuan kami bukan sekadar mengidentifikasi berbagai persoalan pasar, melainkan juga menyusun rekomendasi yang praktis dan pada akhirnya dapat diajukan kepada para pemimpin negara kami,” ujarnya.

Alexey Ivanov, Direktur BRICS Competition Law and Policy Centre, mengatakan bahwa otoritas persaingan usaha harus memainkan peran sentral dalam merancang kerangka kelembagaan bagi bursa tersebut di masa depan.

“BRICS Grain Exchange tidak boleh menjadi sekadar lembaga formal baru. Bursa ini harus menjadi mekanisme praktis untuk meningkatkan persaingan dan transparansi pasar. Otoritas persaingan usaha berada pada posisi yang paling tepat untuk mengidentifikasi karakteristik kelembagaan yang memungkinkan bursa tersebut mencapai tujuan-tujuan tersebut,” katanya.

Peran Internasional BRICS Kian Menguat

Frédéric Jenny, Ketua OECD Competition Committee, mengatakan bahwa inisiatif tersebut menunjukkan semakin besarnya peran internasional otoritas persaingan usaha BRICS.

“Proyek ini menunjukkan bagaimana otoritas persaingan usaha BRICS kini menjadi penggerak agenda persaingan global. Pada masa lalu, mereka lebih banyak mengikuti langkah yurisdiksi negara-negara maju. Kini situasinya telah berubah. Sangat sedikit contoh di dunia mengenai kerja sama yang sedemikian erat antara otoritas persaingan usaha. Hal ini tidak hanya mencakup studi pasar bersama, tetapi juga kerja sama dalam penegakan hukum persaingan dan advokasi kebijakan persaingan. Alih-alih bertindak sendiri-sendiri, Anda telah menemukan mekanisme sekaligus kemauan politik untuk bekerja sama,” ujar Jenny.

Selanjutnya, satuan tugas tersebut akan mulai menyusun metodologi dan rencana kerja untuk penyelidikan bersama. Hasil kajian tersebut diharapkan menghasilkan rekomendasi kebijakan yang bertujuan memperkuat persaingan usaha, meningkatkan transparansi dalam perdagangan gandum global, serta mendukung berbagai inisiatif BRICS di sektor pasar pertanian pada masa mendatang.