SANYA, CHINA – Media OutReach Newswire – Dari 22 hingga 30 April, Asian Beach Games (ABG) ke-6 diselenggarakan di Sanya, Hainan, Tiongkok. Desa Atlet yang berlokasi di Mangrove Tree Resort World Sanya Bay telah menjadi pusat yang hidup dan penuh energi, tempat para atlet dari seluruh Asia berkumpul dan saling terhubung.

Dari mi nasi Hainan di Tiongkok, udang kari India, hingga kimchi Korea Selatan, berbagai hidangan khas regional yang menggugah selera ditampilkan. Saat para atlet menikmati beragam cita rasa dan berbagi budaya kuliner mereka, persahabatan perlahan tumbuh melalui kebahagiaan bersama dalam makanan.
Selain kuliner, Desa Atlet juga mengadakan berbagai aktivitas yang memadukan budaya tradisional Tiongkok dengan pesona lokal Hainan. Kegiatan ini memungkinkan hampir 1.800 atlet dari 45 negara dan wilayah untuk menjadikan budaya sebagai jembatan dalam membangun persahabatan sejati di luar arena pertandingan, sejalan dengan semangat utama ajang ini yaitu “Menyampaikan Persahabatan, Bertemu di Sanya”.
Sebagai jalur utama, koridor di Zona Internasional Desa Atlet selalu ramai oleh aktivitas. Para atlet dari berbagai negara sering berkumpul untuk berbagi cerita lucu tentang latihan, makanan khas daerah asal, lagu dan tarian tradisional, serta cerita rakyat dari negara mereka. Di tengah suasana yang hidup ini, hambatan bahasa dan geografis perlahan menghilang. Desa ini tidak hanya menjadi tempat beristirahat, tetapi juga telah berubah menjadi “rumah kedua” bagi para peserta.
“Saya percaya bahwa ketika kita berkumpul untuk olahraga dan pertukaran budaya, hal terpenting adalah benar-benar terlibat dalam olahraga itu sendiri. Itu yang membantu kita membangun persahabatan, dan itu adalah pengalaman yang luar biasa,” ujar Chaladol Boonsri, ofisial tim Thailand. Ia menambahkan bahwa para atlet dari seluruh Asia telah mendapatkan pemahaman yang lebih dalam satu sama lain melalui kegiatan ini, mempererat hubungan yang pada akhirnya dapat membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik.
Pengalaman budaya lokal Hainan menjadi salah satu daya tarik paling dinanti dalam rangkaian kegiatan pertukaran ini. Xing Liting, kepala Area Pameran Warisan Budaya Takbenda di Desa Atlet, menjelaskan bahwa para atlet dapat melihat langsung berbagai warisan budaya seperti kain tenun Li, ukiran kelapa, dan keramik Li, serta merasakan secara langsung keunikan budaya Hainan. Di bagian lain desa, klinik Pengobatan Tradisional Tiongkok (TCM) juga sangat populer, dengan banyak atlet yang datang untuk mencoba terapi seperti Tuina (pijat) dan moksibusi.
“Saya sangat menyukai pengalaman ini. Benar-benar menyenangkan bisa meresapi budaya Tiongkok,” ujar Chmaissani Issa, atlet ju-jitsu asal Arab Saudi, setelah mencoba membuat anyaman rotan dan bambu khas Hainan.
Selama berlangsungnya pertandingan, Desa Atlet akan menggelar delapan pertunjukan budaya bertema, termasuk “Quintessence of China”, “Joyful Songs of the Sea”, dan “Trendy Sounds of the Free Trade Port”. Pertunjukan pembuka “Quintessence of China” telah dipentaskan pada 19 April. Pertunjukan spektakuler tersebut membuat para atlet tanpa sadar ikut bertepuk tangan mengikuti irama. “Ini pertama kalinya saya menonton pertunjukan Tiongkok di Desa Atlet, dan sangat menarik,” tambah Issa.
Seorang pejabat dari Komite Penyelenggara ABG Sanya menyatakan bahwa tim layanan profesional telah dibentuk untuk memenuhi kebutuhan harian para atlet selama kompetisi. Dengan menyediakan berbagai bentuk perhatian seperti ucapan ulang tahun dan pesan selamat bagi peraih medali, panitia memastikan para atlet dapat fokus pada pertandingan sekaligus membangun saling pengertian dan persahabatan dalam suasana yang santai dan menyenangkan.
ABG ke-6 ini menjadi ajang olahraga internasional besar pertama yang digelar setelah dimulainya operasi bea cukai independen di Pelabuhan Perdagangan Bebas Hainan. Kegiatan pertukaran budaya di Desa Atlet ABG tidak hanya menjadi jembatan komunikasi bagi generasi muda Asia, tetapi juga menunjukkan keterbukaan dan inklusivitas Hainan kepada dunia. “Saya berharap bisa membuat lebih banyak teman, berbagi pengalaman latihan, dan menjelajahi budaya yang berbeda,” ujar Shhijir-Erdene Bat-Enkh, pemain voli pantai asal Mongolia. “Ini pasti akan menjadi kenangan yang indah dan tak terlupakan bagi saya.”
Seiring berjalannya pertandingan, kegiatan pertukaran budaya di “rumah kedua” ini akan terus berlangsung, memungkinkan benih-benih persahabatan tumbuh dan berakar di tengah angin kelapa dan panorama pantai Sanya, serta memastikan semangat Asian Beach Games terus diwariskan melalui integrasi budaya.
Recent Comments