·  63 persen pemimpin industri di Malaysia telah berinvestasi dalam efisiensi energi dan tambahan 33 persen berencana melakukannya dalam 12 bulan ke depan—namun hasil yang dicapai masih terfragmentasi dan tidak merata.

·  Energi menyumbang 25 persen dari biaya operasional di Malaysia, dan 61 persen menyatakan bahwa kenaikan biaya mengancam profitabilitas—namun hambatan telah bergeser sejak 2022, dari faktor biaya menjadi masalah data, keterampilan, dan silo organisasi.

·  Kesiapan digital di Malaysia mencapai 84 persen, dan 85 persen setuju bahwa total biaya kepemilikan (total cost of ownership) seharusnya menjadi pedoman dalam investasi efisiensi energi—namun hanya 42 persen yang secara konsisten menerapkan pendekatan ini.

KUALA LUMPUR, MALAYSIA – Media OutReach Newswire – Efisiensi energi telah menjadi isu tingkat dewan direksi yang berkaitan dengan margin dan risiko, namun banyak organisasi industri di Malaysia masih kesulitan mengubah niat menjadi hasil yang berkelanjutan, menurut laporan terbaru dari ABB.

Berdasarkan survei terhadap 2.700 pengambil keputusan senior di 15 negara dan 15 industri, studi yang dikembangkan bekerja sama dengan Sapio Research ini menemukan bahwa 63 persen responden di Malaysia telah berinvestasi dalam efisiensi energi, dan tambahan 33 persen berencana melakukannya dalam 12 bulan ke depan. Namun demikian, kemajuan semakin terhambat oleh kesenjangan dalam pelaksanaan.

Energi menyumbang rata-rata 25 persen dari biaya operasional di Malaysia, dan 61 persen perusahaan menyatakan bahwa kenaikan biaya energi terus mengancam profitabilitas. Bagi para eksekutif, tantangannya kini bergeser dari sekadar merespons lonjakan harga menjadi mengelola volatilitas harga yang persisten serta paparan struktural terhadap risiko energi.

Dibandingkan dengan rata-rata global, Malaysia menunjukkan beban biaya energi yang setara (25% vs 25% secara global), persepsi ancaman terhadap profitabilitas yang sedikit lebih tinggi (61% vs 59% secara global), serta tingkat kesiapan digital tertinggi di dunia (84% vs 67% secara global).

“Efisiensi energi telah menjadi fondasi bagi keberlanjutan bisnis, kepatuhan, dan penciptaan nilai jangka panjang. Ini adalah syarat untuk akses pasar. Saat ini, para pemimpin peduli pada optimalisasi penggunaan energi. Yang menjadi tantangan adalah penerapan dalam skala besar dan secara berkelanjutan dari waktu ke waktu,” ungkap S Kanavati, Vice President Motion Services, ABB Malaysia Sdn Bhd, Senin (16/3/2026).

Eksekusi, Bukan Niat, Kini Menjadi Pembeda

Studi tersebut menunjukkan bahwa kesiapan digital di Malaysia telah mencapai 84 persen, dengan responden yang sudah menggunakan atau siap menerapkan alat manajemen energi digital. Namun, kesiapan saja tidak menjamin hasil. Hanya 42 persen perusahaan di Malaysia yang secara konsisten menerapkan total cost of ownership (TCO) dalam pengambilan keputusan investasi—meskipun 85 persen setuju bahwa pendekatan tersebut seharusnya menjadi pedoman pembelian.

Pada saat yang sama, tanggung jawab atas efisiensi energi masih terfragmentasi di antara manajemen eksekutif, operasional, keberlanjutan, pemeliharaan, dan keuangan, tanpa satu fungsi pun yang secara jelas bertanggung jawab.

“Hambatan terhadap efisiensi energi pada dasarnya telah berubah. Biaya bukan lagi penghalang utama bagi banyak organisasi secara global—turun dari 50 persen menjadi 43 persen sejak 2022. Yang kini menghambat perusahaan adalah silo organisasi, kesenjangan keterampilan, dan kurangnya data yang dapat digunakan. Ini merupakan titik balik yang krusial. Hal ini menunjukkan bahwa tantangannya adalah membantu bisnis mengubah niat menjadi eksekusi yang dapat diulang,” tambah Pearl Ong, Regional Service Manager Asia, Motion Services, ABB Malaysia Sdn Bhd.
Di Malaysia, hambatan paling signifikan terhadap efisiensi energi adalah biaya (54%), potensi gangguan operasional (44%), dan kurangnya sumber daya spesialis (36%).

Energi Terbarukan Saja Tidak Cukup

Penelitian ini juga menunjukkan meningkatnya risiko “kepuasan pasca-adopsi energi terbarukan”. Di antara organisasi di Malaysia yang telah beralih ke sumber energi terbarukan (43% responden), sebanyak 37 persen melaporkan penurunan fokus pada efisiensi energi.

Meskipun energi terbarukan menurunkan intensitas karbon, hal tersebut tidak mengurangi volume energi yang dikonsumsi—artinya masih terdapat peluang peningkatan efisiensi yang signifikan, bahkan bagi perusahaan yang telah menggunakan listrik hijau. Akibatnya, peluang untuk memperkuat ketahanan, mengendalikan biaya jangka panjang, dan mengurangi paparan terhadap volatilitas belum dimanfaatkan secara optimal.

Ketika ditanya mengenai alasan utama berinvestasi dalam efisiensi energi, responden di Malaysia menyebutkan pengurangan biaya energi (63%), kepatuhan terhadap regulasi (53%), serta peningkatan ketahanan dan daya saing (49%).

Tahap berikutnya dari transisi energi industri akan ditentukan oleh kemampuan pelaksanaan. Meskipun tingkat aktivitas tinggi di berbagai perusahaan di Malaysia dan secara global, upaya yang dilakukan masih belum terkoordinasi dan belum memiliki struktur jangka panjang yang kuat.

“Untuk menutup kesenjangan eksekusi, ABB mengombinasikan diagnostik dengan modernisasi terarah pada sistem berbasis motor, alat optimisasi berbasis perangkat lunak, pembiayaan berbasis hasil, serta layanan siklus hidup. Kecerdasan energi end-to-end adalah cara lain kami membantu industri untuk bergerak lebih cepat, lebih efisien, dan lebih bersih—mengubah inisiatif yang terpisah menjadi peningkatan kinerja yang berkelanjutan,”  simpul Pearl Ong.


Untuk laporan lengkap, silakan kunjungi halaman ini.

Tentang ABB

ABB adalah pemimpin teknologi global dalam bidang elektrifikasi dan otomasi, yang memungkinkan terciptanya masa depan yang lebih berkelanjutan dan efisien dalam penggunaan sumber daya. Dengan menghubungkan keahlian teknik dan digitalisasinya, ABB membantu berbagai industri beroperasi pada kinerja tinggi, sekaligus menjadi lebih efisien, produktif, dan berkelanjutan sehingga mampu melampaui standar kinerja. Di ABB, hal ini kami sebut sebagai “Engineered to Outrun”. Perusahaan ini memiliki sejarah lebih dari 140 tahun dan sekitar 110.000 karyawan di seluruh dunia. Saham ABB tercatat di SIX Swiss Exchange (ABBN) dan Nasdaq Stockholm (ABB). www.abb.com

ABB Motion, pemimpin global dalam motor dan penggerak (drives), berada di inti upaya mempercepat masa depan yang lebih produktif dan berkelanjutan. Kami berinovasi dan mendorong batas teknologi untuk berkontribusi pada solusi yang hemat energi, mendukung dekarbonisasi, dan berbasis ekonomi sirkular bagi pelanggan, industri, dan masyarakat. Dengan penggerak (drives), motor, dan layanan yang didukung teknologi digital, kami membantu pelanggan dan mitra mencapai kinerja yang lebih baik, serta meningkatkan keselamatan dan keandalan. Untuk membantu industri di seluruh dunia berkembang—lebih efisien dan lebih bersih—kami menghadirkan solusi berbasis motor untuk berbagai aplikasi di semua segmen industri. Berlandaskan lebih dari 140 tahun keahlian di bidang sistem penggerak listrik, lebih dari 23.000 karyawan kami di 100 negara terus belajar dan meningkatkan diri setiap hari. go.abb/motion.