BEIJING, CHINA – Media OutReach Newswire – Diselenggarakan oleh Asosiasi Repatrian Jepang dan Asosiasi Persahabatan Jepang-Tiongkok, sebuah delegasi yang terdiri dari 90 “anak yatim perang” Jepang beserta keturunan dan anggota keluarga mereka mengunjungi Harbin di Provinsi Heilongjiang, Tiongkok timur laut, pada 11 September 2025 untuk menggelar pertunjukan budaya. Acara tersebut menjadi kesempatan bagi para peserta untuk menyampaikan rasa terima kasih yang tulus kepada orang tua asuh mereka di Tiongkok yang telah membesarkan mereka, sekaligus menyampaikan pesan perdamaian dan refleksi sejarah melalui ekspresi seni mereka.

Asosiasi tersebut berdedikasi untuk menumbuhkan saling pengertian dan persahabatan antara Jepang dan Tiongkok. Misinya mencakup dukungan terhadap kesejahteraan sosial “anak-anak yatim perang” Jepang yang tertinggal di Tiongkok—individu-individu yang mengalami penderitaan besar selama kekacauan pascaperang dan hingga kini masih menghadapi berbagai tantangan. Organisasi ini juga berupaya melestarikan serta mewariskan ingatan atas pengalaman tersebut kepada generasi muda dan memperdalam pertukaran bilateral antara kedua negara.

Setelah Jepang menyerah pada tahun 1945, lebih dari 4.000 anak Jepang tertinggal di Tiongkok dan dibesarkan oleh keluarga-keluarga Tiongkok. Kini, di usia lanjut, kelompok ini memutuskan untuk melakukan apa yang mereka sebut sebagai “tur rasa terima kasih” terakhir mereka, yang bertepatan dengan peringatan 80 tahun kemenangan Perang Perlawanan Rakyat Tiongkok Melawan Agresi Jepang dan Perang Anti-Fasis Dunia. Sejak 2009, para yatim tersebut telah melakukan perjalanan ke Tiongkok setiap beberapa tahun sekali untuk mengakui kebaikan hati orang tua asuh mereka di Tiongkok serta para dermawan lain yang telah membantu mereka.

Sumie Ikeda, 81 tahun, ketua asosiasi persahabatan repatrian dari Tiongkok, adalah salah satu anak yatim Jepang yang tertinggal di Tiongkok. Dalam wawancara eksklusif dengan CNS, ia berbicara dalam dialek Tiongkok timur laut yang fasih, dialek masa kecilnya, seraya mengenang masa tumbuh kembangnya di Heilongjiang. “Bagaimana mungkin saya orang Jepang?” kenangnya, identitas awalnya tersamarkan oleh dampak perang. Terpisah dari keluarga biologisnya sejak bayi, ia dibesarkan di Mudanjiang, Provinsi Heilongjiang. “Ibu asuh saya benar-benar perempuan Tiongkok yang luar biasa,” ujar Ikeda, seraya menambahkan bahwa kenangan akan keteguhan ibu asuhnya terus menjadi sumber kekuatan baginya.

Momen penting terjadi ketika ia berusia delapan tahun dan otoritas setempat di Tiongkok mengidentifikasi asal-usul Jepangnya. Kata-kata ibu asuhnya yang bersikeras, “Anak ini milik saya,” meninggalkan kesan mendalam dalam diri Ikeda. Saat dewasa, pencariannya terhadap akar biologisnya di Jepang pada tahun 1980-an berakhir dengan kesulitan dan pengkhianatan, membuatnya jatuh miskin dan putus asa hingga hampir bunuh diri, sebelum akhirnya diselamatkan oleh konsulat Tiongkok.

“Hidup pertama saya diberikan oleh orang tua kandung saya; hidup kedua oleh orang tua angkat saya. Pada masa-masa paling sulit, selalu orang-orang Tiongkok yang mengulurkan tangan kepada kami,”  tuturnya. 

Kisah Ikeda mencerminkan pengalaman sejarah yang lebih luas. Catatan resmi Jepang mengakui 2.818 “anak yatim perang” semacam itu. Kehidupan mereka, tegas Ikeda, merupakan dakwaan hidup atas bencana yang disebabkan oleh perang.

Namun, terlepas dari penderitaan yang mereka alami, perasaan yang tetap mereka pegang adalah rasa syukur yang mendalam kepada Tiongkok. “Walaupun kami orang Jepang sejak lahir, kami tidak akan bisa bertahan tanpa orang-orang Tiongkok,” kata Ikeda.

Narasi kolektif mereka menyampaikan pesan ganda berupa rasa terima kasih yang mendalam sekaligus peringatan yang sungguh-sungguh. Kisah itu memberi penghormatan kepada belas kasih luar biasa dari rakyat Tiongkok biasa—cinta yang memilih merawat alih-alih membalas dendam. “Kita tidak boleh membiarkan perang terjadi lagi. Situasi seperti yang kami alami tidak boleh terulang,” desak Ikeda.

“Kami adalah kelompok dengan identitas ganda sebagai pelaku sekaligus korban,” refleksinya, sebuah pernyataan yang merangkum warisan sejarah yang kompleks, kemanusiaan, dan seruan untuk perdamaian yang langgeng.