JAKARTA, INDONESIA – Media OutReach – Untuk menandai peringatan World Youth Skills Day Perserikatan Bangsa-Bangsa tahun ini, Deutsche Post DHL Group (DPDHL Group), perusahaan penyedia jasa logistik terkemuka di dunia telah mempublikasikan beberapa temuan utama dari suatu studi perdana tentang kecakapan kerja pemuda di Asia. Studi daring yang diadakan selama tiga minggu tersebut menerima hampir 950 tanggapan dari pemuda di atas usia 15 tahun di Asia, termasuk hampir 200 respons dari Indonesia. Pemuda – pemuda dari enam negara lainnya – Kamboja, India, Malaysia, Sri Lanka, Thailand, dan Vietnam juga menjadi responden yang melengkapi studi tersebut. Studi Indonesia ini dilakukan sebagai bagian dari program GoTeach oleh DPDHL Group dengan dukungan dari mitranya yaitu SOS Children’s Villages.

Christoph Selig, Vice President, sustainability communications and programs, DPDHL Group mengatakan, “Ketidakpastian dan perasaan tidak aman terhadap pekerjaan muncul seiring dengan perjuangan yang berlanjut dari sebagian besar perekonomian di wilayah tersebut terhadap berbagai gelombang COVID-19. Sementara hal ini pasti berdampak terhadap peta perekrutan untuk berbagai bisnis di seluruh bidang industri, rasanya menggembirakan ketika melihat para pemuda kita mampu mengenali tantangan-tantangan yang ada di hadapannya, tetapi tetap optimis tentang bakat dan kemampuan mereka sendiri dalam mendapatkan pekerjaan setelah menyelesaikan pendidikan mereka.”

Studi tersebut menemukan bahwa hampir 90% pemuda Indonesia yang menjadi responden merasa “cemas” atau “sangat cemas” tentang kemampuan mereka untuk menemukan suatu pekerjaan, dengan hampir 92% di antaranya mengakui bahwa pandemi COVID-19 menimbulkan dampak terhadap proses pencarian pekerjaan. Meskipun demikian, ada kepercayaan diri dan optimisme di kalangan pemuda ini: 9 dari 10 di antara mereka percaya bahwa mereka siap untuk memasuki pasar dunia pekerjaan, dengan lebih dari 80% yang menunjukkan bahwa mereka memperkirakan bisa mendapatkan pekerjaan dalam waktu kurang dari enam bulan setelah menyelesaikan pendidikan mereka.

Ketika melakukan evaluasi terhadap penawaran pekerjaan, lebih dari 21% pemuda Indonesia memilih “rasa aman dalam pekerjaan” sebagai faktor yang paling penting, yang diikuti langsung oleh “peluang untuk belajar dan menghadapi tantangan”. Sementara rekan-rekan mereka di wilayah yang sama percaya bahwa keduanya penting, tetapi ada 20% yang merasa bahwa peluang untuk belajar dan menghadapi tantangan lebih penting daripada rasa aman dalam pekerjaan. Tidaklah mengherankan, sekitar 28% dari pemuda yang mengikuti survei di Indonesia, setuju dengan responden lainnyabahwa metode tradisional seperti pemagangan paling berguna dalam membantu mereka mendapatkan pekerjaan melalui saluran media sosial, dan rekomendasi dari mentor dan guru juga sama-sama disebut sebagai faktor utama yang memungkinkan. Portal pekerjaan daring tetap dianggap cocok sebagai saluran yang berguna dengan persentase terkecil, karena kurangnya koneksi pribadi yang didapatkan dari bekerja sebagai pekerja magang atau validasi oleh kontak.

Preferensi industri

Di Indonesia, lebih dari 30% pemuda yang mengikuti survei merasa bahwa bekerja sebagai profesional tenaga kesehatan seperti perawat atau dokter merupakan profesi yang paling tahan terhadap resesi. Tidak diragukan lagi, mereka telah memegang peran penting sebagai pejuang garis depan sejak wabah global COVID-19 ini. Sementara pekerjaan di dalam sektor pemerintah atau pendidikan masing-masing menempati posisi kedua dan ketiga. Yang menarik, ketika ditanya apa preferensi mereka untuk pekerjaan pertama mereka, hampir 65% pemuda Indonesia memilih kewirausahaan – mencerminkan preferensi yang sama dengan para rekan mereka di wilayah Asia lainnya, dimana lebih dari 20% di antara mereka memilih opsi ini. Secara keseluruhan, pekerjaan yang berhubungan dengan sektor kewirausahaan, pendidikan, dan perhotelan/pariwisata menempati peringkat tiga teratas yang disukai oleh para pemuda di wilayah Asia.

“Pemuda yang baru memasuki angkatan kerja telah menjadi saksi atas krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya, yang telah mempengaruhi pandangan mereka terhadap dunia kerja,” komentar Susanne Novotny, Corporate Partnership Manager di SOS Children’s Villages. “Oleh karena itu, tidaklah mengejutkan jika sebagian besar di antara mereka merasa bahwa industri perawatan kesehatan memang tahan terhadap resesi, tetapi sebagian besar pemuda juga mungkin lebih memilih untuk memulai usaha mereka sendiri, agar dapat memegang kendali atas kehidupan, karier, dan nasib mereka sendiri. Setelah semua itu, rasanya harapan meningkat ketika melihat semangat kewirausahaan para pemuda, yang mendapatkan dukungan kuat dari pelatihan kewirausahaan GoTeach tentang cara memulai dan menjalankan bisnis mereka sendiri.”

Keterampilan penting untuk dunia kerja

Selain keterampilan teknis dan kejuruan, responden Indonesia menganggap keterampilan interpersonal dan bahasa sama pentingnya, dibuktikan dengan sepertiga responden yang memilih masing – masing keterampilan tersebut. Rekan mereka di negara Asia lainnya juga menyebutkan semua ini sebagai keterampilan yang paling penting, yang akan mendukung mereka dalam perjalanan pencarian pekerjaan.

Ditetapkan oleh Majelis Umum pada tahun 2014, World Youth Skills Day merupakan peluang bagi pemuda, institusi pendidikan dan pelatihan teknis dan kejuruan (technical and vocational education and training/TVET), serta pemangku kepentingan sektor publik dan swasta, untuk memberikan pengakuan dan merayakan pentingnya melengkapi pemuda dengan berbagai keterampilan untuk ketenagakerjaan, pekerjaan yang layak, dan kewirausahaan. Tema tahun ini adalah “Keterampilan untuk pemuda yang tangguh”.

Sebagai inisiatif di bidang Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola (LST) atau Environment, Social and Governance (ESG) yang dilakukan sejak tahun 2009, GoTeach berupaya meningkatkan kecakapan kerja para pemuda, terutama mereka yang berasal dari latar belakang sosio-ekonomi yang kurang beruntung akibat keresahan sosial, kemiskinan, dan/atau kehilangan keluarga.

Hingga saat ini, para relawan dari seluruh DPDHL Group yang terdapat di 60 negara telah melakukan kontribusi berupa waktu dan upaya mereka untuk bekerja bersama para pemuda dalam program ini. Di Asia Pasifik, lebih dari 600 relawan DHL melakukan beberapa inisiatif pada tahun 2020, termasuk memberikan bimbingan, pelatihan keterampilan pekerjaan, penulisan daftar riwayat hidup, pemagangan, dan kamp pemuda, untuk kepentingan para pemuda di seluruh wilayah ini.

Catatan untuk editor:

Silakan mengacu pada infografik terlampir untuk temuan lengkap dari studi yang dilakukan terhadap 950 pemuda di seluruh Asia. Untuk lebih banyak kisah tentang program dan pendekatan DHL yang berkelanjutan, termasuk GoTeach, silakan kunjungi Logistics of Things.
DHL – Perusahaan logistik untuk dunia

DHL adalah merek global terkemuka dalam industri logistik. Divisi DHL kami menawarkan berbagai portofolio layanan logistik yang tidak ada bandingannya, yang berkisar dari pengiriman paket nasional dan internasional, solusi pengiriman dan pemenuhan perdagangan elektronik, pengiriman ekspres internasional, transportasi darat, udara, dan lautan, hingga manajemen rantai suplai industrial. Dengan sekitar 400.000 karyawan di lebih dari 200 negara dan wilayah di seluruh dunia, DHL menghubungkan orang-orang dan bisnis dengan aman dan andal, sehingga memungkinkan alur perdagangan global yang berkelanjutan. Dengan solusi khusus untuk pasar dan industri yang sedang bertumbuh termasuk teknologi, ilmu hayati dan perawatan kesehatan, rekayasa, manufaktur & energi, penggunaan otomobil dan retail, DHL menempati posisi sebagai “Perusahaan logistik untuk dunia” dengan meyakinkan.

DHL adalah bagian dari Deutsche Post DHL Group. Group tersebut telah menghasilkan pendapatan lebih dari 66 miliar Euro pada tahun 2020. Dengan praktik bisnis yang berkelanjutan dan komitmen terhadap masyarakat dan lingkungan, Group memberikan kontribusi yang positif terhadap dunia. Deutsche Post DHL Group bertujuan untuk mewujudkan logistik nol emisi pada tahun 2050.