HONG KONG SAR – Media OutReach Newswire – Pada 13 Februari 2026, Creative Schools Continuum menyelenggarakan Simposium “Transforming Education 20/40” di Creative Secondary School (CSS), yang dihadiri lebih dari 200 pendidik, pemimpin sekolah, dan orang tua untuk membahas bagaimana sekolah dapat mempersiapkan siswa menghadapi era kecerdasan buatan dan perubahan teknologi yang cepat.
Acara ini, yang digelar sebagai bagian dari perayaan ulang tahun ke-20 Creative Secondary School dan ulang tahun ke-40 Creative Primary School (CPS) serta Creative Primary School’s Kindergarten (CPSKG), berfokus pada satu pertanyaan utama: Bagaimana sekolah dapat membekali siswa untuk menghadapi masa depan yang tak terduga, sekaligus menumbuhkan karakter, rasa empati, tujuan hidup, dan ketahanan mereka?
Menempatkan Kemanusiaan di Pusat Pembelajaran
Bapak Victor Fong, Pengawas Sekolah di Creative Schools Continuum, membuka simposium dengan menekankan pentingnya menempatkan kemanusiaan sebagai inti pendidikan di era AI. Ia menyerukan agar sekolah mempersiapkan siswa menghadapi dunia yang semakin kompleks, di mana nilai-nilai, sikap, dan pemikiran etis tetap menjadi hal yang esensial.
Kepala Sekolah CSS, Stephen Hindes, memperluas visi ini dengan mencatat bahwa sekolah harus bergerak melampaui metode pengajaran tradisional untuk menciptakan lingkungan di mana generasi muda terdorong untuk mengeksplorasi, bertanya, dan berkembang.
Setelah penampilan siswa yang berpartisipasi dalam 2025 Kuliang Friendship U.S.-China Youth Choir Week, Dr. Spencer Fowler, Kepala Li Po Chun United World College, menyampaikan pidato utama. Ia membahas pentingnya menemukan tujuan hidup di era percepatan teknologi, berargumen bahwa meskipun algoritma memiliki peran, memiliki tujuan yang jelas tetap menjadi elemen paling vital dalam perkembangan siswa.
Dari Teori ke Praktik: Respon Pendidik dan Siswa
Simposium ini juga menampilkan sesi utama oleh Dr. Cecilia Tam, Manajer Program Penelitian Ph.D. di City University of Hong Kong, dan Mr. Maurice Chong, alumnus CSS dan penerima penghargaan Forbes 30 Under 30 Asia, pendiri perusahaan teknologi olahraga KNO.
Dr. Tam fokus pada mindfulness dan pentingnya tetap fokus di era informasi yang melimpah, sementara Mr. Chong mengeksplorasi bagaimana siswa dapat beradaptasi dan berkembang bersama AI, berdasarkan pengalamannya sebagai atlet, peneliti AI, dan pengusaha.
Peserta juga mengikuti dua sesi lokakarya paralel yang dipimpin oleh profesional AI dan Ed-tech, membahas topik seperti digital mindfulness, pengembangan karakter, integrasi kelas inovatif, dan lain-lain.
Panel siswa, yang dimoderatori oleh Ms. Ruth Benny dari Top Schools, memberikan kesempatan kepada peserta simposium untuk mendengar pengalaman siswa belajar di CSS. Para siswa menggambarkan CSS sebagai tempat di mana mereka dapat belajar dari kesalahan dengan dukungan guru, sekaligus mengembangkan kepemimpinan, disiplin, dan rasa tanggung jawab yang kuat. Mereka juga membagikan kekhawatiran tentang tetap kompetitif seiring kemajuan AI, kecemasan yang muncul akibat media sosial, dan tantangan membuat keputusan etis saat menggunakan alat AI. Refleksi mereka memberikan perspektif autentik tentang bagaimana generasi muda sebenarnya mengalami perubahan yang sedang direncanakan oleh orang dewasa.
Guru sebagai Pemandu, Bukan Sekadar Pengajar
Panel kedua, yang dimoderatori oleh Ms. Ruth Benny, menghadirkan Dr. Cecilia Tam, Kepala Sekolah Stephen Hindes, dan Mr. Maurice Chong. Percakapan mereka membahas berbagai isu masa depan: penilaian yang dibayangkan ulang, pembelajaran yang dipercepat oleh AI, dan mengapa nilai-nilai kemanusiaan menjadi semakin penting seiring berkembangnya otomatisasi. Panel ini menyimpulkan bahwa peran pendidik harus bergeser dari sekadar menyampaikan informasi menjadi membimbing siswa menuju pembelajaran mandiri (self-directed learning).
Simposium “Transforming Education 20/40” menegaskan komitmen Creative Schools Continuum untuk mempersiapkan siswa tidak hanya untuk sukses akademik, tetapi juga untuk menjalani kehidupan yang bermakna di dunia yang cepat berubah. Seiring teknologi membentuk ulang pembelajaran, pendidik mendefinisikan ulang peran mereka sebagai mentor yang mempersiapkan generasi muda untuk memahami AI, menggunakannya dengan bijak, dan berkontribusi secara bermakna bagi masyarakat.
Sorotan Fakta Creative Schools Continuum
Tiga Sekolah • Satu Filosofi • Satu Continuum
- Moto Creative Schools Continuum adalah “Nurture Future Minds • Build Boundless Capacity”, menyoroti wawasan jauh ke depan dan pemahaman mendalam tentang pendidikan berkualitas serta komitmen kami terhadap siswa dan orang tua.
- Creative Primary School dan Creative Secondary School adalah “Inviting Schools” pemenang penghargaan. Penghargaan ini mengakui komitmen sekolah dalam menyediakan lingkungan belajar yang sangat peduli, penuh kepercayaan, hormat, dan positif bagi siswa dan staf.
- Sebagai International Baccalaureate (IB) World Schools, Creative Primary School dan Creative Secondary School masing-masing menawarkan IB Primary Years Programme (IB PYP) dan IB Middle Years Programme (IB MYP).
- Creative Secondary School juga menawarkan kursus Hong Kong Diploma of Secondary School Examination (HKDSE) paralel dengan IB Diploma Programme (IBDP) sebagai jalur menuju penerimaan universitas.
Recent Comments