Kemitraan dengan SkillsFuture Singapore dan Equinix menjadi dasar penelitian terkait dampak AI terhadap pekerjaan, keterampilan, dan pembelajaran seumur hidup

SINGAPURA – Media OutReach Newswire – Singapore Management University (SMU) hari ini mengumumkan peluncuran Resilient Workforces Institute (ResWORK), sebuah institut riset baru di tingkat universitas yang berfokus pada penguatan ketahanan tenaga kerja dan pembelajaran sepanjang hayat di tengah percepatan perubahan teknologi. Institut ini merupakan salah satu yang pertama di Singapura dan kawasan yang secara bersama-sama mempelajari pembelajaran orang dewasa dan masa depan dunia kerja melalui pendekatan terintegrasi dan interdisipliner yang mencakup ekonomi, manajemen, ilmu perilaku, dan teknologi.

Keterangan Foto: Peluncuran SMU Resilient Workforces Institute [dari kanan ke kiri: Profesor Alan Chan, Rektor Akademik (Provost) SMU; Tamu Kehormatan Dr Janil Puthucheary, Menteri Negara Senior, Kementerian Pendidikan serta Kementerian Keberlanjutan dan Lingkungan; Bapak Tan Kok Yam, Kepala Eksekutif SkillsFuture Singapore; Profesor Lily Kong, Presiden SMU; dan Profesor Archan Misra, Wakil Rektor (Riset) serta Direktur Sementara SMU Resilient Workforces Institute].

Dr Janil Puthucheary, Menteri Negara Senior Kementerian Pendidikan serta Kementerian Keberlanjutan dan Lingkungan, hadir memeriahkan peluncuran tersebut sebagai Tamu Kehormatan. Dalam sambutannya, Dr Janil menekankan pentingnya kemitraan dengan industri yang didukung oleh riset untuk mengatasi disrupsi tenaga kerja yang ditimbulkan oleh kecerdasan buatan (AI) dan teknologi digital.

“Peluncuran Resilient Workforces Institute mencerminkan komitmen SMU terhadap riset yang bermakna—riset yang membentuk kebijakan publik, memberikan panduan bagi praktik organisasi, dan pada akhirnya memperkuat ketahanan tenaga kerja Singapura. Dengan menggabungkan wawasan lintas disiplin, ResWORK akan membantu Singapura dan kawasan dalam menavigasi perubahan besar yang membentuk ulang dunia kerja dan pembelajaran di era AI,” ungkap
Profesor Lily Kong, Presiden Singapore Management University.

ResWORK akan berfungsi sebagai pusat penghubung bagi riset lintas disiplin di seluruh SMU, yang diorganisasikan ke dalam tiga pilar utama:

  • Mengoptimalkan Kolaborasi Manusia–Mesin: memungkinkan pekerja untuk belajar dan bekerja secara efektif berdampingan dengan AI, mesin, dan robotika.
  • Transformasi Organisasi: merancang ulang proses bisnis, kepemimpinan, dan praktik kerja untuk lingkungan kerja yang didukung AI.
  • Memaksimalkan Modal Manusia Masyarakat: menganalisis transisi pasar tenaga kerja dan membentuk kebijakan yang mendorong pekerjaan yang inklusif dan produktif.

Momentum riset telah dimulai bahkan sebelum peluncuran resmi, dengan ResWORK berhasil mengamankan partisipasi sejumlah akademisi tamu ternama tingkat global serta lebih dari 20 anggota fakultas dari enam sekolah di SMU. Para dosen ResWORK baru-baru ini memulai sembilan proyek riset yang didanai melalui hibah awal internal, serta beberapa program riset dengan pendanaan eksternal, dengan total nilai pendanaan melebihi S$1,5 juta.

Proyek-proyek awal ini mencerminkan penekanan Institut pada riset terapan yang relevan bagi kebijakan, yang dikembangkan melalui kolaborasi dengan lembaga publik dan mitra industri. (Catatan: Lihat Lampiran A untuk daftar proyek riset yang memperoleh hibah awal.)

SMU telah mengalokasikan dana sebesar S$5 juta selama lima tahun untuk menjadi fondasi pendirian Institut ini, dengan tujuan memperoleh tambahan S$8 juta pendanaan riset eksternal dalam waktu tiga tahun. Pendanaan ini akan memungkinkan ResWORK untuk memperluas kemitraan serta program risetnya secara berkelanjutan dari waktu ke waktu.

“ResWORK dibangun atas keyakinan bahwa perubahan yang dipimpin oleh kecerdasan buatan (AI) akan membentuk ulang peluang, bukan menghilangkannya. Agenda riset kami dirancang untuk melampaui tahap diagnosis menuju perumusan solusi—dengan bekerja sama dengan lembaga pemerintah, pemberi kerja, dan mitra lainnya untuk menghasilkan bukti yang dapat menjadi dasar bagi kebijakan, praktik organisasi, dan sistem pembelajaran sepanjang hayat. Saya sangat antusias melihat bagaimana rekan-rekan dari berbagai disiplin Manajemen, Ekonomi, dan Ilmu Komputasi telah bersatu untuk secara kolektif merumuskan agenda riset yang positif, yang memandang transformasi tempat kerja berbasis AI sebagai peluang ekonomi sekaligus pendorong inovasi dalam praktik pembelajaran orang dewasa. Peluncuran ini melanjutkan momentum yang telah berjalan dan menandai dimulainya upaya berkelanjutan SMU untuk membantu membentuk tenaga kerja yang tangguh dan siap menghadapi masa depan,” jelas Profesor Archan Misra, Wakil Rektor (Riset) dan Direktur Sementara ResWORK.

Menopang Prioritas Nasional Tenaga Kerja melalui Kolaborasi dengan SkillsFuture Singapore

Pada acara peluncuran, SMU dan SkillsFuture Singapore (SSG) juga menandatangani Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) selama dua tahun untuk secara bersama-sama mengidentifikasi dan mendorong riset strategis mengenai bagaimana kecerdasan buatan (AI), teknologi digital, serta perubahan preferensi kerja antar generasi mentransformasi tugas pekerjaan, permintaan keterampilan, serta jalur karier dan pembelajaran, dan menerjemahkan temuan tersebut ke dalam kebijakan yang mendukung keberlanjutan daya kerja (employability) dan pertumbuhan yang inklusif.

Selain itu, kerja sama ini juga akan mengkaji bagaimana sistem pembelajaran orang dewasa dapat dirancang ulang guna meningkatkan partisipasi, retensi, dan dampak, serta bagaimana organisasi dapat mengombinasikan kapabilitas manusia dan mesin untuk meningkatkan produktivitas tanpa mengorbankan makna pekerjaan.

“Kemitraan kami dengan SMU melalui ResWORK didorong oleh satu tujuan utama: mempersiapkan sistem nasional SkillsFuture agar tetap relevan di masa depan. Dengan mempersiapkan masa depan, yang kami maksud adalah pembelajaran orang dewasa harus beradaptasi dengan dampak teknologi baru yang berkembang pesat terhadap dinamika tenaga kerja, sehingga pelatihan yang diterima para peserta benar-benar membekali mereka untuk menghadapi perubahan tersebut. Sistem ini juga harus memiliki pemahaman yang mendalam tentang apa yang diinginkan pemberi kerja dari para pekerja mereka, di mana dan bagaimana sifat pekerjaan telah berubah, serta keterampilan dan atribut apa yang memungkinkan pekerja untuk berhasil secara optimal. ResWORK berupaya membantu membangun kapabilitas tersebut bagi sistem pelatihan orang dewasa nasional kami,” kata Bapak Tan Kok Yam, Kepala Eksekutif SkillsFuture Singapore.

Kemitraan Industri yang Mendorong Riset Terapan tentang Disrupsi AI dan Ketahanan Tenaga Kerja

Sebagai pelengkap kolaborasi nasional dengan SkillsFuture Singapore (SSG), ResWORK akan bekerja sama dengan mitra industri untuk menerjemahkan hasil riset ke dalam praktik nyata.

SMU menerima kontribusi sebesar S$450.000 dari Equinix untuk memajukan riset terapan di bawah ResWORK. Kontribusi ini akan mendukung sebuah proyek riset sistemik unggulan mengenai paparan pekerjaan terhadap kecerdasan buatan (AI) di pasar tenaga kerja Singapura.

Dipimpin oleh Profesor Li Jia, Dekan School of Economics; Lee Kong Chian Professor of Economics; (penugasan kehormatan di Lee Kong Chian School of Business) serta pimpinan bidang Ekonometrika di SMU Urban Institute, studi ini akan mengembangkan indeks terdepan di Singapura yang dapat direproduksi, transparan, dan dapat diakses publik untuk mengukur tingkat paparan AI pada lowongan pekerjaan baru di berbagai jenis pekerjaan, industri, dan segmen pekerja. Dengan menganalisis iklan lowongan kerja dan persyaratan tugas dari waktu ke waktu, riset ini akan melacak bagaimana keterampilan dan tuntutan tugas terkait AI berkembang, serta menghasilkan wawasan untuk mendukung perencanaan tenaga kerja, program peningkatan dan alih keterampilan (reskilling), serta kebijakan ketenagakerjaan.

Kolaborasi ini menandai inisiatif riset pertama yang didanai oleh korporasi di bawah ResWORK dan mencerminkan penekanan Institut pada riset berbasis data yang relevan bagi kebijakan serta berdampak nyata di dunia praktik.

“Equinix dan SMU telah lama menjalin kemitraan kolaboratif yang bertujuan membangun masa depan digital yang berkelanjutan. Dengan bermitra bersama SMU dalam inisiatif Resilient Workforce, kami berinvestasi pada riset yang akan membantu memposisikan Singapura sebagai pemimpin regional dalam bidang AI dan masa depan dunia kerja, sekaligus memberikan masukan bagi perancangan kebijakan yang lebih terarah seperti program reskilling,” jelas Ms Leong Yee May, Managing Director Equinix Singapore.

###

Lampiran A: Proyek Riset ResWORK yang Didanai Hibah Awal (Seed Funding)

Menjelang peluncuran resminya, Resilient Workforces Institute (ResWORK) telah memulai sembilan proyek riset yang didanai melalui hibah awal, yang mencerminkan momentum awal serta kolaborasi aktif lintas sekolah di SMU. Proyek-proyek ini diorganisasikan berdasarkan tiga pilar utama ResWORK dan berfokus pada riset terapan yang relevan bagi kebijakan, melalui kemitraan dengan organisasi sektor publik dan swasta.

Pilar 1: Mengoptimalkan Kolaborasi Manusia–Mesin

Riset mengenai teknologi dan alat (AR/VR, AI) yang memungkinkan individu untuk belajar sekaligus melaksanakan tugas-tugas masa depan melalui kolaborasi dengan AI, mesin, dan robot.

  1. Kecerdasan Buatan dalam Pendidikan Tinggi: Evaluasi Keluaran AI dan Metakognisi Mahasiswa Hukum

Tema: Teknologi untuk Meningkatkan Pembelajaran Orang Dewasa
Peneliti Utama: Gary CHAN Kok Yew, Dosen Penuh Waktu, Profesor Hukum, Yong Pung How School of Law

Mengapa Ini Penting:
Seiring masuknya alat AI ke dalam dunia pendidikan dan pelatihan profesional, proyek ini mengkaji bagaimana mahasiswa hukum belajar mengevaluasi secara kritis keluaran AI serta merefleksikannya sebagai bagian dari pelatihan mereka untuk menjadi profesional hukum di masa depan yang dekat.

Tentang Proyek:
Proyek ini meneliti bagaimana mahasiswa hukum menilai penalaran hukum yang dihasilkan oleh AI, dengan fokus pada kesadaran metakognitif, penilaian reflektif, dan penggunaan AI yang bertanggung jawab. Dengan menggunakan hukum perdata (tort law) sebagai media uji, penelitian ini mengkaji bagaimana peserta didik menerima, merevisi, atau menolak keluaran AI, serta mengidentifikasi praktik terbaik dalam mengevaluasi akurasi, kejelasan, dan kualitas penalaran. Temuan penelitian ini akan memberikan masukan bagi integrasi AI yang etis dalam pendidikan dan pelatihan profesional.

Dampak Riset:
Mendukung dan meningkatkan kemampuan mahasiswa hukum dalam melakukan evaluasi kritis serta penilaian reflektif terhadap keluaran AI.

  1. Mengungkap Motivasi dalam Pembelajaran Orang Dewasa dengan AI Generatif

Tema: Teknologi untuk Meningkatkan Pembelajaran Orang Dewasa
Peneliti Utama: NGO Chong Wah, Dosen Penuh Waktu, Lee Kong Chian Professor of Computer Science, Direktur Human-Machine Collaborative Systems Cluster, ResWORK Fellow, School of Computing and Information Systems

Ko-Peneliti Utama:
Gary Pan @ SOA; Clarence Goh @ SOA; Venky Shankararaman @ SCIS; Dragan Gasevic @ Monash University

Mengapa Ini Penting:
Pekerja pada tahap pertengahan karier diharapkan untuk terus melakukan peningkatan dan alih keterampilan, namun motivasi dan keterlibatan tetap menjadi hambatan utama dalam pembelajaran sepanjang hayat.

Tentang Proyek:
Proyek ini menyelidiki bagaimana AI generatif dapat mempersonalisasi pembelajaran orang dewasa untuk menjaga motivasi di kalangan pembelajar paruh baya yang harus menyeimbangkan tuntutan pekerjaan, studi, dan kehidupan pribadi. Proyek ini mengembangkan sistem pembelajaran berbasis AI generatif yang menyediakan dukungan pembelajaran mandiri dan percakapan interaktif melalui interaksi dengan model bahasa skala besar. Dengan menganalisis perilaku belajar, pola dialog, dan sinyal perilaku, riset ini mengidentifikasi bagaimana dukungan (scaffolding) berbasis AI dapat meningkatkan keterlibatan dan keberlanjutan pembelajaran dalam pendidikan orang dewasa.

Dampak Riset:
Proyek ini bertujuan untuk mengungkap proses motivasional dalam pembelajaran orang dewasa guna memberikan dasar bagi perancangan sistem pembelajaran berbasis AI.

  1. Membangun Kompetensi Refleksi untuk Kolaborasi Manusia–AI: Sistem Pelatihan Multi-Agen

Tema: Perubahan Praktik Profesional di Tempat Kerja
Peneliti Utama: NAH, Fiona Fui-Hoon, Dosen Penuh Waktu, Profesor Sistem Informasi, ResWORK Fellow, School of Computing and Information Systems
Kolaborator: Jiaqi WU YOUNG, Mahasiswa PhD @ SCIS; Ming WANG, Mahasiswa Riset Pascasarjana Tamu @ SCIS

Mengapa Ini Penting:
Organisasi sering kali mengadopsi AI lebih cepat dibandingkan pengembangan keterampilan pekerja untuk mengevaluasinya secara kritis. Hal ini dapat menyebabkan ketergantungan yang berlebihan atau justru kurang, menurunnya kualitas penilaian, serta hilangnya potensi peningkatan produktivitas.

Tentang Proyek:
Proyek ini menangani masalah “utang kognitif” di tempat kerja yang didukung AI dengan mengembangkan sistem pelatihan refleksi multi-agen yang terintegrasi ke dalam alat AI. Dengan mengacu pada teori motivasi dan perilaku, penelitian ini merancang dan menguji intervensi yang mendorong pengguna untuk merefleksikan, mengkaji secara kritis, dan mengevaluasi keluaran AI. Riset ini bertujuan menyediakan pendekatan pelatihan yang dapat diskalakan untuk menyeimbangkan adopsi AI dengan penilaian serta pengawasan manusia.

Dampak Riset:
Mengatasi utang kognitif pengguna AI melalui pelatihan refleksi demi membangun tenaga kerja yang tangguh.

  1. Transfer Keterampilan Adaptif: Scaffolding Berbasis Reinforcement Learning untuk Personalisasi Kognitif dalam Pembelajaran Orang Dewasa

Tema: Transfer Pembelajaran Orang Dewasa
Peneliti Utama: Pradeep Reddy VARAKANTHAM, Dosen Penuh Waktu, Profesor Ilmu Komputer, Direktur CARE.AI Lab, Koordinator Jalur Artificial Intelligence Program Sarjana Ilmu Komputer (BSc), School of Computing and Information Systems
Ko-Peneliti Utama: Annabel Chen Shen-Hsing, NTU
Kolaborator: Swapna Gottipati @ SCIS, SMU

Mengapa Ini Penting:
Program peningkatan dan alih keterampilan sering gagal karena sistem pembelajaran mengabaikan kekuatan kognitif yang telah dimiliki oleh pembelajar dewasa.

Tentang Proyek:
Penelitian ini mengeksplorasi bagaimana sistem AI adaptif dapat mempercepat pembelajaran orang dewasa dengan memanfaatkan kemampuan penalaran dan pemecahan masalah yang sudah ada. Diimplementasikan dalam sebuah platform pembelajaran adaptif, proyek ini menggunakan asesmen kognitif dan reinforcement learning untuk mempersonalisasi konten sekaligus strategi berpikir. Dengan menjadikan transfer keterampilan lebih eksplisit dan efisien, studi ini bertujuan meningkatkan kecepatan belajar, retensi, dan hasil reskilling.

Dampak Riset:
Mentransformasi reskilling orang dewasa dari sekadar penyampaian konten menjadi jembatan pembelajaran yang dipersonalisasi dan digerakkan oleh AI, yang memanfaatkan kekuatan penalaran yang telah ada untuk mempercepat penguasaan keterampilan kompleks.

  1. Dampak Cognitive Offloading Berbasis AI terhadap Keterampilan Metakognitif dan Transfer Pembelajaran pada Pembelajar Profesional Dewasa

Tema: Transfer Pembelajaran Orang Dewasa
Peneliti Utama: YANG Hwajin, Dosen Penuh Waktu, Profesor Psikologi, Wakil Dekan (Riset), Lee Kong Chian Fellow, ResWORK Fellow, School of Social Sciences
Ko-Peneliti Utama: Sarah Wong @ SOSS; Gary Pan @ SOA; Andree Hartanto @ SOSS
Kolaborator: Wong Zi Yang, Research Fellow, SMU

Mengapa Ini Penting:
Meskipun AI dapat mempermudah pekerjaan, ketergantungan yang berlebihan dapat melemahkan proses belajar, kualitas penilaian, serta pengembangan keterampilan jangka panjang.

Tentang Proyek:
Proyek ini meneliti bagaimana penggunaan alat AI memengaruhi kesadaran metakognitif pembelajar dewasa—yaitu kemampuan memantau dan mengatur proses belajar sendiri—serta transfer pembelajaran, yakni penerapan pengetahuan pada situasi baru dalam konteks pengembangan profesional. Dengan menggunakan desain uji acak terkontrol, penelitian ini membandingkan penggunaan AI yang dibimbing dan tidak dibimbing untuk menentukan apakah penggunaan AI yang dibimbing dapat meningkatkan keterampilan kognitif tersebut, atau justru penggunaan tanpa bimbingan melemahkannya akibat cognitive offloading yang berlebihan.

Dampak Riset:
Temuan penelitian ini akan menjadi dasar pengembangan kerangka pelatihan berbasis AI yang mendorong pembelajaran yang berkelanjutan, pemikiran reflektif, dan keterampilan yang dapat ditransfer di kalangan pekerja dewasa.

  1. Menuju Onboarding yang Terukur dan Terkelola bagi Tim Manusia–AI

Tema: Kategori Terbuka
Peneliti Utama: LEE, Min Hun, Dosen Penuh Waktu, Asisten Profesor Ilmu Komputer, School of Computing and Information Systems

Mengapa Ini Penting:
Adopsi AI sering kali gagal bukan karena akurasi model, melainkan karena faktor manusia dan alur kerja—pengguna tidak mengetahui kapan harus mempercayai, mempertanyakan, atau mengoreksi sistem AI.

Tentang Proyek:
Proyek ini mentransformasi proses onboarding AI menjadi pengalaman pembelajaran yang interaktif dan terukur, yang mengajarkan pengguna cara berkolaborasi secara efektif dengan AI. Dengan menggunakan kerangka kerja terstruktur “Understand–Control–Improve” (Memahami–Mengendalikan–Meningkatkan), proyek ini mengembangkan berbagai alat yang mendorong kepercayaan yang terkalibrasi, keterjelasan penjelasan (explainability), serta intervensi yang aman. Penelitian ini bertujuan untuk menetapkan metode yang kuat bagi kolaborasi manusia–AI yang terkelola dalam alur pengambilan keputusan di dunia nyata.

Dampak Riset:
Proyek ini mengembangkan metode kolaborasi manusia–AI yang terukur dan terkelola, sehingga memungkinkan adopsi AI yang aman dan efektif dalam alur kerja pengambilan keputusan di dunia nyata.

PILAR #2: TRANSFORMASI ORGANISASI

  1. Menilai Nilai Pengaturan Kerja Fleksibel: Eksperimen Pilihan Diskret dengan Pemberi Kerja dan Pekerja di Singapura

Tema: Perubahan Praktik Profesional di Tempat Kerja
Pilar: #2 / #3
Peneliti Utama: KIM Seonghoon, Dosen Penuh Waktu, Profesor Madya Ekonomi, Wakil Direktur, Centre for Research on Successful Ageing (ROSA), School of Economics
Ko-Peneliti Utama: Cao Wenjia @ SOE, SMU
Kolaborator: Kanghyock Koh, Korea University

Mengapa Ini Penting:
Pengaturan kerja fleksibel kini menjadi prioritas nasional, namun bukti mengenai nilai sebenarnya bagi pemberi kerja dan pekerja masih terbatas.

Tentang Proyek:
Studi ini mengukur bagaimana pemberi kerja dan pekerja menilai pengaturan kerja fleksibel melalui eksperimen pilihan diskret berskala besar. Dengan memperkirakan pertukaran yang setara dengan upah (wage-equivalent trade-offs) untuk berbagai bentuk fleksibilitas, penelitian ini menyediakan bukti untuk mendukung pengambilan keputusan organisasi dan implementasi kebijakan setelah diterbitkannya Pedoman Tripartit Singapura tentang Permintaan Pengaturan Kerja Fleksibel. Riset ini mendukung perancangan tempat kerja yang lebih berkelanjutan, inklusif, dan produktif.

  1. Ketidakamanan Pekerjaan dan Motivasi Karyawan

Tema: Perubahan Praktik Profesional di Tempat Kerja
Peneliti Utama: Nina SIROLA, Dosen Penuh Waktu, Asisten Profesor Perilaku Organisasi & Sumber Daya Manusia, ResWORK Fellow, Lee Kong Chian School of Business

Mengapa Ini Penting:
Meningkatnya ketidakamanan pekerjaan dapat secara diam-diam mengikis motivasi dan kinerja, bahkan di organisasi yang berinvestasi besar dalam upaya transformasi.

Tentang Proyek:
Proyek ini meneliti bagaimana keyakinan manajer terhadap karyawan yang menghadapi ketidakamanan pekerjaan memengaruhi perilaku kepemimpinan dan motivasi intrinsik. Alih-alih hanya berfokus pada stres karyawan, penelitian ini mengidentifikasi mekanisme yang digerakkan oleh manajer yang dapat melemahkan atau justru mempertahankan motivasi. Melalui studi eksperimental dan studi lapangan, riset ini mengembangkan intervensi kepemimpinan berbiaya rendah untuk mendukung keterlibatan dan kesejahteraan karyawan selama masa ketidakpastian.

Dampak Riset:
Proyek ini menyoroti bagaimana keyakinan manajer dan perilaku kepemimpinan dapat melemahkan atau mempertahankan motivasi intrinsik pekerja yang mengalami ketidakamanan pekerjaan, serta menunjukkan adanya tuas ketahanan berbasis keyakinan yang berbiaya rendah.

PILAR #3: MEMAKSIMALKAN MODAL MANUSIA MASYARAKAT

  1. Mengukur Dampak AI dan Model Bahasa Skala Besar terhadap Pasar Tenaga Kerja Singapura: Penyusunan Indeks Paparan Berbasis Tugas

Tema: Kategori Terbuka
Peneliti Utama: LI Jia, Dosen Penuh Waktu, Dekan School of Economics, Lee Kong Chian Professor of Economics, Pimpinan Bidang Ekonometrika, SMU Urban Institute
(penugasan kehormatan di Lee Kong Chian School of Business)
Kolaborator: Zhang Dandan, Peking University

Mengapa Ini Penting:
Pembuat kebijakan dan pemberi kerja membutuhkan bukti yang jelas mengenai jenis pekerjaan mana yang paling terdampak oleh AI, serta pekerjaan mana yang kemungkinan besar akan memperoleh manfaat darinya.

Tentang Proyek:
Proyek ini mengembangkan Indeks Paparan AI–LLM berbasis tingkat tugas pertama di Singapura dengan mengombinasikan data lowongan pekerjaan dan informasi tugas yang terperinci. Dengan menggunakan metode ekonometrika baru untuk mengatasi ketidakpastian pengukuran, penelitian ini membedakan antara efek AI yang bersifat melengkapi (komplementer) dan menggantikan (substitutif) terhadap tenaga kerja manusia. Indeks yang dihasilkan akan menjadi dasar bagi perencanaan tenaga kerja, strategi reskilling, serta kebijakan ketenagakerjaan nasional.

Dampak Riset:
Mengukur dampak disruptif sekaligus pemberdayaan dari AI terhadap pasar tenaga kerja Singapura.

Tentang SMU

Sebagai salah satu universitas terkemuka di Asia, SMU diakui secara internasional atas riset kelas dunia dan pengajaran yang unggul. Didirikan pada tahun 2000, misi SMU adalah menghasilkan riset terdepan yang berdampak global serta mencetak pemimpin yang berwawasan luas, kreatif, dan berjiwa kewirausahaan untuk perekonomian berbasis pengetahuan. Pendidikan di SMU dikenal dengan pendekatan pembelajaran yang sangat interaktif, kolaboratif, dan berbasis proyek.

SMU menaungi lebih dari 13.000 mahasiswa yang mengikuti program sarjana, pascasarjana profesional, dan pascasarjana riset. SMU terdiri dari delapan sekolah, yaitu School of Accountancy, Lee Kong Chian School of Business, School of Economics, School of Computing and Information Systems, Yong Pung How School of Law, School of Social Sciences, College of Integrative Studies, dan College of Graduate Research Studies. SMU menawarkan beragam program gelar sarjana, magister, dan doktor (PhD) dalam bidang-bidang keilmuan yang sesuai dengan sekolah-sekolah tersebut, serta dalam berbagai kombinasi multidisipliner dari bidang-bidang tersebut.

SMU menekankan riset yang ketat, berdampak tinggi, serta bersifat multi- dan interdisipliner yang membahas isu-isu Asia dengan relevansi global. Para dosen SMU berkolaborasi dengan peneliti dan universitas internasional terkemuka di seluruh dunia, serta dengan mitra dari komunitas bisnis dan sektor publik. Kampus kota SMU merupakan fasilitas modern yang berlokasi di pusat kota Singapura, yang mendorong terjalinnya hubungan strategis dengan dunia usaha, pemerintah, dan masyarakat luas.