Dari Otoritas Menjadi Teman: Perjalanan Pengasuhan Positif bagi Orang Tua Baru
HONG KONG SAR – Media OutReach Newswire – Bagi banyak keluarga di Hong Kong, mengasuh anak sering kali terasa seperti tarik-menarik tanpa henti antara waktu, stres, dan emosi. Program Heart to Heart Parent-Child dari Save the Children Hong Kong merupakan program dukungan bagi orang tua dan anak yang bertujuan membantu orang tua membangun kepercayaan diri serta keterampilan dalam menerapkan pola asuh positif dan komunikasi tanpa kekerasan. Hal ini memungkinkan anak merasa dihargai, mengembangkan kesadaran perlindungan diri, serta memperkuat hubungan antara orang tua, anak, dan keluarga.

Tonton wawancara video: https://savethechildren.click/H2H_AppleCheukStory_PR
Dengan tuntutan pekerjaan yang tinggi, orang tua sering berupaya memenuhi kebutuhan materi anak, namun kerap kekurangan waktu atau energi untuk benar-benar memahami perasaan satu sama lain—yang pada akhirnya dapat membebani hubungan keluarga. Bagi Cheuk dan Apple, orang tua dari seorang anak laki-laki berusia empat tahun, peran sebagai ayah dan ibu membuat mereka perlahan menyadari bahwa pengalaman masa kecil mereka sendiri—yang dipenuhi teguran, tekanan, dan penekanan emosi—telah membentuk cara mereka berinteraksi dengan anak mereka saat ini. “Dulu, setiap kali ada masalah, insting pertama saya selalu ingin langsung menyelesaikannya,” kenang Cheuk. Dipengaruhi oleh pola asuh yang ia terima, Cheuk sering menghadapi konflik dengan memberi instruksi atau membiarkan emosi mengambil alih, terkadang mengabaikan perasaan anak atau pasangannya saat itu. Apple juga berbagi bahwa kurangnya pemahaman dan dukungan emosional di masa kecilnya memengaruhi cara seseorang membangun hubungan di kemudian hari. “Saya tidak ingin mengulangi pola yang sama,” jelas Apple. Refleksi ini mendorong mereka untuk mengikuti program Heart to Heart Parent-Child dari Save the Children Hong Kong, sebagai upaya memutus siklus disiplin tradisional yang bersifat menghukum.
Membangun Keluarga Penuh Kasih dan Rutinitas Harian: Belajar Mengasuh, Menemukan Kembali Diri Sendiri
Program Heart to Heart Parent-Child merupakan program dukungan orang tua dan anak yang berbasis pada kerangka perlindungan anak dari Save the Children, yang telah diterapkan di lebih dari 40 negara di seluruh dunia. Program ini kemudian disesuaikan untuk Hong Kong, dan hingga kini telah menjangkau lebih dari 700 orang tua serta pengasuh dan lebih dari 1.000 anak. Program ini bertujuan membantu orang tua membangun kepercayaan diri dan keterampilan dalam menerapkan pola asuh positif serta komunikasi tanpa kekerasan, sehingga anak dapat merasa dihargai, memiliki kesadaran perlindungan diri, serta memperkuat hubungan keluarga.
Fasilitator program, Janet, mencatat bahwa banyak orang tua sebenarnya sangat menghargai hubungan dengan anak mereka—“mereka ingin melakukannya dengan baik, tetapi tidak tahu caranya.” Di bawah tekanan sosial dan pekerjaan yang berat, orang tua mudah kembali pada pola disiplin yang sudah familiar namun tidak sehat.
“Pola asuh positif bukan berarti memanjakan.” Janet menjelaskan bahwa pendekatan ini menekankan keseimbangan antara kehangatan keluarga dan bimbingan yang terstruktur, yaitu dengan mengakui emosi dan kebutuhan anak, sekaligus menetapkan batasan yang jelas dan aman. Hal ini membantu anak merasa dipahami sekaligus belajar perilaku yang tepat serta norma sosial.
Janet juga menegaskan bahwa program ini menekankan pentingnya “kehangatan keluarga” dan “bimbingan yang terstruktur”.
Dalam kelompok orang tua, Cheuk dan Apple diperkenalkan pada berbagai konsep baru, seperti “mengakui perasaan terlebih dahulu, baru menyelesaikan masalah” serta “Teori Gunung Es” untuk mengidentifikasi penyebab mendasar di balik ledakan emosi. Konsep-konsep ini yang awalnya terasa abstrak, secara bertahap menjadi lebih praktis dan dapat diterapkan melalui lokakarya orang tua yang terdiri dari empat sesi, yang menggabungkan diskusi dan contoh kehidupan nyata.
Pembelajaran Paralel bagi Orang Tua dan Anak: Membantu Anak Mengungkapkan Emosi
Dalam program ini, orang tua diperkenalkan pada berbagai alat praktis untuk membantu anak mengenali dan mengekspresikan perasaan mereka. Salah satunya adalah penggunaan buku bergambar dan aktivitas seni.
“Warna dan gambar bisa menjadi bahasa bagi anak,” ujar Janet. Melalui buku bergambar, orang tua dan anak dapat membangun bahasa emosional bersama. Misalnya, menggunakan warna untuk menggambarkan kemarahan, ketenangan, atau kegelisahan membantu anak lebih mudah mengungkapkan perasaan mereka.
Apple berbagi bahwa buku bergambar dan kegiatan menggambar membuka peluang baru untuk berkomunikasi. Meskipun anaknya masih kecil, “ketika kita benar-benar duduk dan mendengarkan, dia memang mengekspresikan dirinya.” Program ini juga mencakup kelompok paralel untuk anak usia 6–12 tahun, sehingga orang tua dan anak dapat belajar komunikasi positif secara bersamaan.
Kelompok anak menggunakan buku bergambar dan aktivitas seni sebagai sarana untuk mengajarkan anak mengenali dan mengekspresikan emosi.
Sebuah kejadian kecil saat wawancara di taman menggambarkan dengan jelas bagaimana keluarga ini menerapkan pola asuh positif. Ketika anak mereka mengamuk karena kesulitan menggambar, Apple tidak memarahinya, melainkan dengan tenang berkata, “Kami tidak akan tahu kalau kamu tidak mengajarkannya kepada kami,” serta mengungkapkan perasaannya dengan mengatakan, “Ketika melihat kamu marah, saya merasa sangat sedih.”
Dengan mengekspresikan emosi dari sudut pandangnya sendiri, anak mereka pun menjadi lebih tenang, menyampaikan apa yang ia butuhkan, dan dengan bantuan Cheuk, keluarga tersebut dapat kembali menikmati waktu bersama. Janet memuji kesabaran pasangan ini. “Mereka berkomunikasi secara jujur dan berbagi perasaan. Itulah unsur penting dalam pola asuh positif.”
Apple dan Cheuk dengan sabar mendengarkan saat anak mereka meluapkan emosi, berhasil menenangkannya dan memahami kebutuhannya.
Pelukan Lebih Bermakna daripada Kata-kata: Komunikasi Positif Memperkuat Ikatan Keluarga
Setelah mempelajari pola asuh positif, mereka menyadari bahwa hal tersebut tidak hanya memperbaiki hubungan dengan anak mereka, tetapi juga mempererat hubungan sebagai pasangan. “Baik dengan anak maupun istri saya, memperhatikan emosi mereka itu sangat penting,” refleksi Cheuk. “Dulu saya hanya ingin menyelesaikan masalah, tetapi sekarang saya mengerti bahwa terkadang respons terbaik hanyalah sebuah pelukan.”
Bagi pasangan ini, mengasuh anak bukan lagi sekadar soal “mendisiplinkan,” melainkan sebuah perjalanan kebersamaan.
Apple mengatakan bahwa kini ia dan anaknya berhubungan layaknya teman, saling mendukung dan tumbuh bersama. “Kami tidak berusaha membesarkan anak yang sesuai dengan standar tertentu,” ujar Apple. “Kami ingin dia menjadi seseorang yang bisa merasakan cinta, memahami dirinya sendiri, dan menghargai orang lain.” Harapan ini mencerminkan dengan sempurna semangat inti dari Program Heart to Heart.
Bagi Apple dan Cheuk, mengasuh anak kini bukan lagi sekadar soal disiplin, tetapi tentang menjadi rekan dalam perjalanan tumbuh bersama.
Kalina Tsang, CEO Save the Children Hong Kong, menyampaikan kegembiraannya melihat perubahan pada Apple dan Cheuk:
“Kami melihat semakin banyak orang tua yang menyadari pentingnya komunikasi tanpa kekerasan dan pola asuh positif. Hal ini tidak hanya meningkatkan hubungan orang tua dan anak, tetapi juga secara efektif mengurangi ledakan emosi dan risiko konflik yang semakin memanas. Perubahan ini merupakan langkah awal yang penting dalam mencegah kekerasan terhadap anak.
Dengan diberlakukannya Peraturan Wajib Pelaporan Kekerasan terhadap Anak, kini terdapat jaring pengaman penting bagi anak-anak. Namun, ini baru titik awal, bukan akhir. Kita juga harus berfokus pada pencegahan dan edukasi, membantu keluarga mengurangi risiko sebelum masalah muncul. Save the Children Hong Kong memiliki keyakinan kuat bahwa pola asuh positif tanpa kekerasan adalah pendekatan paling efektif untuk pencegahan.
Melindungi anak adalah tanggung jawab bersama seluruh masyarakat, dan kami akan terus mendukung keluarga di Hong Kong untuk memastikan setiap anak tumbuh dengan aman, penuh rasa hormat, dan kasih sayang.”
https://savethechildren.org.hk/en/
https://www.facebook.com/savethechildrenhk
https://www.instagram.com/savethechildrenhk/
YouTube: https://www.youtube.com/user/savehk

Tentang Save the Children Hong Kong
Save the Children percaya bahwa setiap anak berhak atas masa depan. Di Hong Kong maupun di seluruh dunia, kami melakukan segala upaya—setiap hari dan di masa krisis—agar anak-anak dapat memenuhi hak mereka untuk mendapatkan awal kehidupan yang sehat, kesempatan untuk belajar, serta perlindungan dari bahaya. Dengan pengalaman lebih dari 100 tahun, kami merupakan organisasi independen pertama dan terkemuka di dunia yang berfokus pada anak—mengubah kehidupan dan masa depan mereka.
Didirikan pada tahun 2009, Save the Children Hong Kong merupakan bagian dari gerakan global yang beroperasi di sekitar 100 negara. Kami bekerja bersama anak-anak, keluarga, sekolah, komunitas, serta para pendukung kami untuk menghadirkan perubahan yang berkelanjutan bagi anak-anak di Hong Kong dan di seluruh dunia.
Kunjungi situs web kami, atau ikuti kami di Facebook, Instagram, LinkedIn, dan YouTube.
Recent Comments