SINGAPURA – Media OutReach Newswire – Saat Singapura merayakan 60 tahun kemerdekaannya, Generasi Z (berusia 16–28 tahun) menunjukkan optimisme terhadap masa depan finansial mereka dalam 60 tahun mendatang. Sebanyak 51 persen dari mereka yakin bahwa mereka akan mampu pensiun dengan baik dan memenuhi kebutuhan harian, layanan kesehatan, serta pengeluaran lainnya. Kelompok muda ini menunjukkan tingkat optimisme yang sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan Generasi Milenial (45 persen) dan Generasi X (38 persen).

Namun, 72 persen dari Gen Z menyatakan bahwa mereka belum memiliki rencana pensiun. Karena sebagian besar dari mereka masih berstatus pelajar atau baru memasuki dunia kerja, fokus utama mereka saat ini adalah meningkatkan kemampuan penghasilan. Mereka cenderung memilih untuk mulai menabung untuk pensiun ketika sudah memiliki pendapatan yang lebih besar di masa depan.

Gen Z memiliki preferensi unik terkait gaya hidup dan pekerjaan yang perlu dipertimbangkan dalam menyusun rencana pensiun mereka. Sebanyak 41 persen fokus pada memiliki berbagai sumber pendapatan. Selain itu, 60 persen dari mereka tidak menempatkan keseimbangan kerja-hidup di atas kemajuan karier—angka ini lebih tinggi dibandingkan generasi sebelumnya. Sekitar 32 persen berharap mendapatkan kesempatan kerja jarak jauh agar bisa menyeimbangkan antara kerja dan bepergian, dan 22 persen tertarik untuk menjalani beberapa kali “pensiun mikro”. Sebanyak 54 persen berharap dapat pensiun pada usia 60 tahun, dan 20 persen menargetkan pensiun di usia 50.

Temuan ini berasal dari SG60 Financial Future Poll yang ditugaskan oleh Prudential Singapore, yang mensurvei 1.000 warga Singapura berusia 17 hingga 76 tahun pada Juli 2025. Survei ini mengeksplorasi sejauh mana kesiapan masyarakat Singapura untuk pensiun dalam 60 tahun ke depan dan menanyakan kepada Baby Boomer (berusia 55 tahun ke atas) tentang keputusan finansial yang mungkin mereka ubah jika bisa mengulang kembali.

“Gen Z percaya diri menghadapi 60 tahun ke depan karena mereka tumbuh di negara yang berkembang pesat dan memberi mereka banyak peluang. Mereka adalah generasi pekerja keras yang berani, ingin membangun banyak sumber penghasilan sejak muda, tetapi dengan cara mereka sendiri—sering bepergian dan mengambil jeda kerja,” tutur Jeff Ang, CEO Prudential Financial Advisers Singapore, dalam rilisnya, Kamis (28/8/2025).

“Meski mudah menunda perencanaan pensiun saat sedang fokus mencari penghasilan, penting untuk memperkuat kondisi finansial dengan mencari nasihat keuangan sedini mungkin. Anda tidak perlu memulai dengan jumlah besar—memulai dari kecil dan konsisten bisa memberikan hasil besar, terutama dengan kekuatan bunga majemuk. Optimisme dan kerja keras sangat baik, dan jika dipadukan dengan perencanaan keuangan, akan membawa kesuksesan jangka panjang,” jelasnya.

Baby Boomer Menyesal Tidak Merencanakan Keuangan 12 Tahun Lebih Awal

Gen Z dapat belajar banyak dari nasihat para Baby Boomer yang telah memiliki pengalaman panjang dalam mengelola keuangan. Hampir semua Baby Boomer (94 persen) menyatakan mereka akan mengubah pendekatan dalam perencanaan keuangan jika bisa kembali ke masa lalu. Mereka berharap bisa memulai perencanaan keuangan 12 tahun lebih awal, yaitu pada usia 28 tahun, bukan usia 40. Secara keseluruhan, masyarakat Singapura dari semua kelompok usia menyebut seharusnya mereka memulai perencanaan lima tahun lebih awal.

Merefleksikan perjalanan hidup mereka, penyesalan utama Baby Boomer dalam menunda perencanaan pensiun meliputi:

  • 61 persen berharap membentuk kebiasaan keuangan yang lebih kuat lebih awal,
  • 49 persen berpikir mereka bisa pensiun jauh lebih awal dengan perencanaan yang tepat waktu,
  • 45 persen merasa mereka akan mengalami lebih sedikit stres terkait tabungan pensiun,
  • 35 persen berharap bisa mulai berinvestasi lebih awal,
  • 28 persen menyesal atas pengeluaran yang tidak perlu.

“Kalau dipikir-pikir, saya berharap sudah mulai merencanakan pensiun jauh lebih awal. Sekarang saya sudah pensiun, saya makin sadar betapa cepatnya pengeluaran bertambah, apalagi dengan biaya hidup dan layanan kesehatan yang terus naik. Meski anak-anak saya mendukung, saya tidak ingin menjadi beban finansial bagi mereka. Saya tadinya pikir masa pensiun hanya 10–20 tahun, tapi ternyata bisa 30 tahun atau lebih karena usia hidup kita semakin panjang. Seharusnya saya manfaatkan dana lebih saya dulu untuk diinvestasikan,” kata Mdm Sherafina Tan, 62 tahun.

Biaya hidup yang tinggi (75 persen), biaya layanan kesehatan (56 persen), dan pertumbuhan penghasilan yang tidak mencukupi (50 persen) disebut sebagai kekhawatiran utama di semua kelompok usia responden.

“Warga Singapura yang lebih tua kini fokus pada bagaimana menjalani hidup dengan baik setelah usia 60 tahun dan di masa emas mereka. Mereka membutuhkan aliran kekayaan jangka panjang untuk menghadapi meningkatnya biaya hidup akibat inflasi dan faktor lainnya. Tabungan CPF dan rekening bank adalah awal yang baik menuju keamanan finansial. Namun, ini sebaiknya dilengkapi dengan portofolio kekayaan yang terdiversifikasi dengan investasi yang tepat untuk menghasilkan pendapatan pasif, serta perlindungan asuransi jiwa dan kesehatan yang memadai guna menunjang gaya hidup mereka dalam jangka panjang,” jelas Jeff Ang.

Ketika ditanya bagaimana mereka akan membiayai masa pensiun, mayoritas responden menyebut tabungan CPF (67 persen) dan tabungan di bank (62 persen) sebagai sumber utama dana pensiun. Mereka juga berencana memanfaatkan sumber kekayaan lainnya seperti saham, reksa dana indeks/Exchange Traded Funds (ETF) yang mengikuti indeks seperti S&P 500, obligasi, polis asuransi, dan rencana investasi terkait unit (ILP).

“Survei kami menunjukkan bahwa Gen Z dan Milenial lebih cenderung berinvestasi pada reksa dana indeks dan ETF, serta lebih sedikit mengandalkan asuransi untuk pensiun dibandingkan generasi yang lebih tua. Mereka juga sebaiknya mempertimbangkan perlindungan sebagai bagian dari strategi keuangan jangka panjang mereka. Asuransi kesehatan sebaiknya dibeli sejak dini ketika masih sehat. Jenis asuransi lain seperti tabungan dan solusi akumulasi kekayaan dapat memberikan pertumbuhan dan stabilitas yang dibutuhkan masyarakat Singapura dalam menghadapi kenaikan biaya dan merencanakan hidup setelah usia 60 tahun,” tutup Jeff Ang.

https://www.prudential.com.sg

https://www.linkedin.com/company/prudential-assurance-company-singapore