SINGAPURA – Media OutReach Newswire – 15 Oktober 2026 – AIMCONNECT 2026 diselenggarakan pada 11 Oktober 2026 di Shangri-La Rasa Sentosa, Singapura, dengan mengusung tema “Where Mobility Meets the Future” (Ketika Mobilitas Bertemu dengan Masa Depan). Acara yang diselenggarakan oleh X Star Technology dan Aimotion ini mempertemukan para pemimpin industri dari 11 negara. Perwakilan dari lebih dari 100 organisasi otomotif, lebih dari 60 lembaga keuangan, dan sekitar 20 perusahaan teknologi hadir untuk membahas bagaimana kolaborasi lintas industri dapat menciptakan ekosistem mobilitas yang lebih terhubung.

Acara ini dibuka oleh Tin Pei Ling, anggota Parlemen Singapura, dan Dato’ Tony Khor Chong Boon, Presiden Federation of Motor and Credit Companies Associations of Malaysia (FMCCAM). Melalui presentasi utama, diskusi panel, dan demonstrasi teknologi secara langsung, para peserta mengkaji bagaimana solusi berbasis kecerdasan buatan (AI) dapat meningkatkan pengalaman pelanggan sekaligus memastikan transparansi, keamanan, dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab.

AIMCONNECT 2026 Soroti Peralihan Menuju Mobilitas yang Terhubung

Dalam pidato utama bertajuk “The Next Mobility Economy: Intelligence, Connection, Trust” (Ekonomi Mobilitas Berikutnya: Kecerdasan, Konektivitas, dan Kepercayaan), CEO X Star Technology, Shawn Yang, menyoroti semakin lebarnya kesenjangan antara keterlibatan konsumen di dunia digital dan penyelesaian transaksi otomotif.

Shawn Yang menjelaskan bahwa konsumen semakin sering memulai proses pembelian kendaraan secara daring, dengan berbagai penelitian menunjukkan tingginya permintaan terhadap dukungan AI dalam pengambilan keputusan. Berdasarkan data yang disampaikan dalam pidato utama tersebut, 90% pembeli mobil melakukan riset secara daring sebelum mengunjungi dealer, 63% berharap dapat menggunakan AI dalam pembelian kendaraan berikutnya, dan 67% meyakini bahwa AI akan memengaruhi keputusan pembiayaan mereka.

Namun, proses pembelian dan kepemilikan kendaraan masih terfragmentasi. Pelanggan sering kali harus berpindah-pindah antara dealer, penyedia pembiayaan, dan berbagai sistem, sehingga menimbulkan hambatan yang tidak perlu selama proses pembelian maupun kepemilikan kendaraan.

“Pelanggan tidak kehilangan arah pada satu tahap tertentu; mereka justru kehilangan arah akibat hambatan di antara tahapan-tahapan tersebut,” ujar Yang. Ia menjelaskan bahwa tahap berikutnya dalam inovasi mobilitas membutuhkan kerja sama yang lebih erat antara perusahaan otomotif, lembaga keuangan, dan penyedia teknologi. Alih-alih hanya memperbaiki bagian-bagian tertentu secara terpisah, industri perlu menciptakan pengalaman yang saling terhubung sehingga informasi, keputusan, dan layanan dapat mengalir secara lebih efisien di antara berbagai pemangku kepentingan.

Dalam AIMCONNECT 2026, berbagai demonstrasi teknologi menampilkan solusi-solusi baru yang dirancang untuk mengatasi tantangan tersebut. X Star Technology memperkenalkan platform Xport dengan mendemonstrasikan kemampuan pencocokan prospek pelanggan dengan pinjaman hanya melalui satu klik, serta persetujuan secara waktu nyata. Aimotion, MStar, AI Wingman, dan MK.X juga memperkenalkan inovasi terbaru mereka, yang menyoroti potensi pemanfaatan perangkat berbasis AI di seluruh rantai nilai industri otomotif.

Membangun Kepercayaan Seiring Meningkatnya Peran AI dalam Pengambilan Keputusan

Salah satu tema utama sepanjang AIMCONNECT 2026 adalah pentingnya kepercayaan ketika kecerdasan buatan semakin banyak dilibatkan dalam proses yang berinteraksi langsung dengan pelanggan.

Meskipun AI dapat meningkatkan kecepatan dan efisiensi, para pemimpin industri menegaskan bahwa teknologi harus beroperasi dalam batasan yang jelas. Keputusan yang berkaitan dengan pembiayaan, kelayakan pelanggan, dan komitmen finansial memerlukan transparansi, pengawasan manusia, serta akuntabilitas.

Yang memperkenalkan kerangka kerja eksklusif Harness milik X Star Technology, yang menggabungkan batasan operasional AI, pengawasan manusia, dan pengelolaan data yang dapat ditelusuri. Kerangka kerja ini dirancang untuk memastikan sistem AI beroperasi dalam parameter yang telah diizinkan, sekaligus memungkinkan kasus-kasus kompleks diteruskan kepada manusia untuk ditinjau.

“Dalam pembiayaan otomotif, satu keputusan yang keliru dapat merugikan pelanggan dan menyebabkan ketidakpatuhan terhadap peraturan. Agar AI dapat beroperasi secara mandiri di seluruh perjalanan pelanggan dengan tingkat otonomi yang sesungguhnya, kepercayaan tidak boleh menjadi sesuatu yang baru dipikirkan belakangan. Kepercayaan harus dirancang ke dalam arsitektur sistem sejak hari pertama,” ujar Yang.

Diskusi tersebut juga menyoroti pentingnya menyeimbangkan personalisasi dengan perlindungan privasi. Meskipun konsumen semakin mengharapkan layanan yang disesuaikan dengan kebutuhan mereka, otomatisasi berlebihan atau intervensi yang tidak diperlukan dapat mengurangi kepercayaan. Oleh karena itu, solusi AI yang efektif harus memadukan kecerdasan dengan batasan penggunaan yang tepat.

Memperkuat Konektivitas di Seluruh Ekosistem Pembiayaan Otomotif

Topik utama lainnya dalam AIMCONNECT 2026 adalah bagaimana kolaborasi yang lebih kuat antara perusahaan otomotif, lembaga keuangan, dan penyedia teknologi dapat menciptakan pengalaman pembiayaan yang lebih efisien dan tepercaya.

Dalam diskusi panel bertajuk “Building a Connected Auto Finance Ecosystem” (Membangun Ekosistem Pembiayaan Otomotif yang Terhubung), yang dimoderatori oleh CEO MStar, Zhang Peng, para perwakilan industri membahas peran konektivitas data, keamanan siber, dan adopsi teknologi yang bertanggung jawab dalam membentuk masa depan pembiayaan otomotif.

Para pembicara dari Deloitte, Deutsche Bank, The CEO Circle, dan JWT Bespoke mengulas bagaimana lembaga keuangan dan perusahaan di sektor mobilitas dapat memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan kualitas pengambilan keputusan sekaligus mempertahankan kepercayaan pelanggan.

“Infrastruktur data dan konektivitas yang lebih baik dapat membantu industri mengambil keputusan pembiayaan yang lebih tepat berdasarkan informasi yang lebih lengkap. Namun, teknologi harus berjalan beriringan dengan kepercayaan,” ujar Zhang.

Diskusi tersebut menegaskan bahwa konektivitas bukan sekadar persoalan mengumpulkan lebih banyak data. Ekosistem yang benar-benar terintegrasi mengharuskan setiap organisasi menetapkan prinsip yang jelas mengenai cara informasi dibagikan, dilindungi, dan digunakan. Pelanggan juga harus memahami informasi apa yang mereka berikan dan bagaimana informasi tersebut berkontribusi terhadap peningkatan kualitas layanan.

Matthew Duncan, Direktur sekaligus CEO JWT Bespoke, menyoroti pentingnya menyeimbangkan inovasi dengan perlindungan konsumen berdasarkan pengalaman Australia dalam regulasi otomotif dan keuangan.

“Regulasi bekerja paling baik ketika melindungi pelanggan sekaligus memberikan ruang bagi industri untuk meningkatkan cara masyarakat membeli dan membiayai kendaraan mereka,” ujar Duncan.

Menjelajahi Masa Depan Kepemilikan Kendaraan

Selain pembiayaan dan transaksi, AIMCONNECT 2026 juga membahas pertanyaan yang lebih luas yang dihadapi industri mobilitas: bagaimana konsumen akan memaknai kepemilikan kendaraan pada masa depan?

Meningkatnya layanan penyewaan jangka panjang (leasing), layanan berlangganan, berbagi kendaraan (car-sharing), dan pemesanan kendaraan dengan pengemudi (ride-hailing) telah memperluas pilihan konsumen, sehingga menghadirkan berbagai alternatif di luar model kepemilikan kendaraan tradisional.

Dalam diskusi panel bertajuk “The Future of Owning a Car” (Masa Depan Kepemilikan Mobil), yang dimoderatori oleh Shawn Yang, para pemimpin industri membahas bagaimana perubahan ekspektasi konsumen dapat memengaruhi perilaku mobilitas pada masa mendatang.

Hasil jajak pendapat peserta menunjukkan pandangan yang hampir berimbang. Sebanyak 54% peserta meyakini bahwa solusi mobilitas fleksibel dapat menjadi pilihan utama dalam satu dekade mendatang, sedangkan 46% memperkirakan kepemilikan kendaraan akan tetap menjadi pilihan yang dominan.

Hasil tersebut mencerminkan kompleksitas tren mobilitas masa depan. Alih-alih sepenuhnya menggantikan kepemilikan kendaraan, berbagai model mobilitas baru berpotensi memberikan lebih banyak pilihan kepada konsumen sesuai dengan gaya hidup, kondisi keuangan, dan kebutuhan perjalanan mereka.

James Ng, Direktur Pelaksana BYD Singapura sekaligus Presiden BYD Filipina, berbagi wawasan mengenai perjalanan pengembangan teknologi BYD.

“Fase pertama BYD adalah elektrifikasi untuk menghadirkan performa. Fase kedua adalah kecerdasan, dengan memanfaatkan AI untuk meningkatkan pengalaman pelanggan. Fase ketiga akan berfokus pada integrasi,” ujar Ng.

Xiao Ting, CEO MK.X, menyampaikan bahwa asisten AI yang semakin canggih dapat mengubah cara konsumen mengambil keputusan terkait mobilitas.

“Keputusan konsumen ke depannya mungkin tidak lagi terlalu berfokus pada kepemilikan mobil, melainkan pada menemukan solusi mobilitas yang tepat untuk setiap perjalanan,” ujar CEO tersebut.

Ng juga menyoroti penerapan teknologi BYD yang lebih luas di luar kendaraan, termasuk Sistem Penyimpanan Energi Baterai (Battery Energy Storage Systems/BESS) dan solusi energi terbarukan yang berkontribusi terhadap pembentukan ekosistem teknologi yang lebih luas.

Perkembangan ini menunjukkan bahwa lanskap mobilitas masa depan tidak hanya akan melibatkan produsen otomotif, tetapi juga dealer, lembaga keuangan, dan platform teknologi yang perlu menyesuaikan layanan mereka dengan perubahan ekspektasi konsumen.

AI Memperluas Pengalaman Kepemilikan Kendaraan Melampaui Transaksi Penjualan

Peran kecerdasan buatan sepanjang siklus kepemilikan kendaraan juga menjadi salah satu fokus utama AIMCONNECT 2026.

Dalam diskusi panel bertajuk “How Is AI Reshaping Mobility?” (Bagaimana AI Membentuk Ulang Mobilitas?), yang dimoderatori oleh Chief Technology Officer X Star, Michael Jia, para pakar industri membahas bagaimana AI dapat membantu konsumen melampaui tahap pemilihan dan pembelian kendaraan.

Peserta panel meliputi Carson Zhang dari Aimotion, Connor Liu dari Google Cloud, Dr. Harold Teng dari MK.X Technology, dan Bryan Tan dari Carro.

Ketika para peserta ditanya mengenai bidang yang akan memperoleh dampak terbesar dari AI, layanan kepemilikan yang dipersonalisasi menempati posisi teratas, mengungguli pemilihan kendaraan, pembiayaan otomotif, dan kecerdasan di dalam kendaraan. Hasil tersebut menunjukkan bahwa para pelaku industri melihat peluang besar untuk meningkatkan pengalaman kepemilikan setelah pembelian kendaraan selesai.

Bryan Tan, Kepala Ilmuwan Carro Group sekaligus CEO Carro Indonesia, menjelaskan bahwa penilaian nilai kendaraan semakin dipengaruhi oleh sumber data baru. Untuk kendaraan listrik, faktor-faktor seperti kondisi baterai dan riwayat pengisian daya semakin menjadi pertimbangan penting, selain indikator tradisional seperti jarak tempuh.

Tan juga menyoroti bahwa pasar seperti Singapura memiliki pertimbangan khusus, termasuk pengaruh sistem Certificate of Entitlement (COE) terhadap nilai kendaraan. COE merupakan sertifikat yang memberikan hak kepada pemilik untuk memiliki dan menggunakan kendaraan di Singapura selama periode tertentu.

Contoh-contoh tersebut menunjukkan bagaimana kemajuan teknologi otomotif memengaruhi berbagai aspek di luar performa berkendara, termasuk pembiayaan, nilai jual kembali, dan keputusan kepemilikan jangka panjang.

Namun, para pemimpin industri sepakat bahwa penerapan AI harus tetap berfokus pada manfaat praktis.

“Fokusnya harus tetap pada pemberian manfaat nyata, peningkatan keselamatan, dan penciptaan pengalaman mobilitas yang lebih intuitif bagi konsumen,” ujar Dr. Teng.

Kolaborasi Akan Menentukan Tahap Berikutnya dalam Inovasi Mobilitas

Dari berbagai diskusi dalam AIMCONNECT 2026, muncul satu pesan utama yang sama: masa depan mobilitas akan dibentuk oleh kolaborasi.

Produsen otomotif dan dealer perlu lebih memahami kebutuhan pelanggan serta mengurangi hambatan yang tidak perlu sepanjang perjalanan kepemilikan kendaraan. Lembaga keuangan harus meningkatkan efisiensi sekaligus mempertahankan praktik pemberian pinjaman yang bertanggung jawab. Sementara itu, penyedia teknologi perlu mengembangkan solusi yang memenuhi kebutuhan operasional, persyaratan regulasi, dan ekspektasi pelanggan.

Bagi pembuat kebijakan dan pemangku kepentingan industri, tantangannya adalah mendorong inovasi sekaligus menjaga kepercayaan masyarakat.

“Tidak ada satu perusahaan pun yang dapat mengubah seluruh perjalanan mobilitas sendirian,” ujar Xiao Ting.

Zhang menekankan bahwa keberhasilan solusi mobilitas masa depan tidak boleh hanya diukur berdasarkan kecepatan dan efisiensi, tetapi juga berdasarkan seberapa efektif industri bekerja sama dalam melayani pelanggan.

“Kemajuan tidak seharusnya hanya diukur dari seberapa cepat pinjaman dapat disetujui, tetapi juga dari seberapa baik industri bekerja sama untuk melayani pelanggan,” ujar Zhang.

AIMCONNECT 2026 menunjukkan bahwa kecerdasan buatan akan memainkan peran yang semakin penting dalam sektor mobilitas. Namun, teknologi saja tidak akan menentukan masa depan industri ini. Tahap berikutnya dalam transformasi otomotif akan bergantung pada pembangunan sistem yang cerdas, transparan, dan saling terhubung, yang didukung oleh kemitraan lebih kuat di seluruh ekosistem mobilitas.

Tentang AIMCONNECT 2026

AIMCONNECT 2026 mempertemukan para pemimpin industri otomotif, dealer, produsen peralatan asli (original equipment manufacturers/OEM), lembaga keuangan, inovator teknologi, serta para pengambil keputusan industri untuk mengeksplorasi masa depan perdagangan otomotif dan mobilitas.

Melalui dialog industri, sesi berbagi wawasan dan gagasan strategis, serta demonstrasi teknologi secara langsung, AIMCONNECT menyediakan wadah bagi para pemangku kepentingan untuk bertukar wawasan dan berkolaborasi dalam mengembangkan solusi mobilitas terhubung generasi berikutnya.