·  Rata-rata klaim gangguan bisnis melampaui €850.000, sekitar 70% lebih tinggi dibandingkan rata-rata klaim kerusakan properti terkait.

·  Kebakaran dan ledakan menyumbang lebih dari 40% dari total nilai klaim yang dianalisis.

·  Peristiwa non-bencana alam menyumbang 74% dari jumlah klaim dan 66% dari total nilai klaim, sementara klaim akibat bencana alam membutuhkan waktu penyelesaian yang makin panjang (long-tailed).

SINGAPURA – Media OutReach Newswire – 8 Oktober 2026 – Perusahaan-perusahaan semakin berisiko mengalami lonjakan kerugian akibat gangguan bisnis yang disebabkan oleh pemusatan produksi, rantai pasok yang rapuh, ketegangan geopolitik, inflasi, dan ketergantungan teknologi yang kian besar. Menurut analisis baru dari Allianz Commercial, nilai rata-rata klaim gangguan bisnis kini melebihi €850.000. Angka ini sekitar 70% lebih tinggi dibandingkan rata-rata klaim kerusakan properti yang mendekati €500.000. Hal tersebut menunjukkan bahwa konsekuensi finansial akibat ketidakmampuan beroperasi dapat secara signifikan melebihi biaya perbaikan kerusakan yang menyebabkan gangguan tersebut. Laporan ini menganalisis 7.888 klaim asuransi gangguan bisnis di industri dengan total nilai sekitar €6,74 miliar (atau US$7,82 miliar) dari 1 Januari 2021 hingga 31 Desember 2025. Meskipun frekuensi klaim relatif stabil, nilai rata-rata klaim meningkat lebih dari 30% setiap tahunnya selama dua tahun terakhir.

“Risiko gangguan bisnis dan rantai pasok tetap tinggi dan volatil. Lingkungan operasional sangat menantang dengan adanya ketegangan geopolitik, fragmentasi perdagangan, insiden terkait siber, dan ketergantungan yang kian besar pada teknologi seperti kecerdasan buatan (AI). Skala kerusakan fisik semata tidak lagi menentukan biaya akhir dari suatu gangguan bisnis. Bahkan insiden yang relatif terisolasi pun dapat berdampak pada jaringan produksi, pelanggan, dan pasar. Oleh karena itu, bisnis perlu mengidentifikasi dan memahami dengan lebih baik tidak hanya aset-aset krusial mereka sendiri, tetapi juga milik para pemasok, teknologi, dan infrastruktur yang menjadi tumpuan operasional mereka,” ujar Thomas Lillelund, CEO Allianz Commercial.

Kebakaran Menjadi Penyebab Kerugian Utama

Kebakaran dan ledakan merupakan penyebab klaim gangguan bisnis yang paling mahal, mencakup lebih dari 40% dari total nilai yang dianalisis, atau setara dengan sekitar €2,9 miliar (US$3,3 miliar). Kebakaran menjadi penyebab dari sembilan dari 10 peristiwa gangguan bisnis buatan manusia termahal dalam himpunan data ini dan menjadi penyebab kerugian termahal di berbagai pasar termasuk Jerman, Singapura, Hong Kong, Inggris, dan AS. Salah satu kasus mengilustrasikan bagaimana kerugian dapat melonjak melebihi insiden aslinya: kebakaran di unit manufaktur kecil menyebabkan kerusakan fisik yang relatif terbatas, tetapi memicu gangguan parah pada operasional di tingkat hilir, yang pada akhirnya menghasilkan kerugian gangguan bisnis tingkat grup mencapai sembilan digit. Bencana alam menjadi penyebab termahal kedua, mewakili 34% dari nilai klaim yang dianalisis, sekaligus yang paling sering terjadi dengan porsi 26% dari total klaim. Jika digabungkan, peristiwa kebakaran dan ledakan serta bencana alam menyumbang lebih dari 75% dari total nilai klaim.

Meski demikian, peristiwa yang tidak melibatkan aktivitas bencana alam tetap menjadi pendorong utama kerugian gangguan bisnis secara keseluruhan, yakni menyumbang 74% dari total klaim dan 66% dari keseluruhan nilainya.

Pemulihan Membutuhkan Waktu Lebih Lama dan Biaya Lebih Besar

Beberapa klaim bencana alam membutuhkan waktu penyelesaian yang semakin panjang. Dua tahun setelah Badai Helene pada September 2024, banyak klaim gangguan bisnis terkait yang belum terselesaikan, bukan karena masalah cakupan asuransi, melainkan karena perusahaan yang terdampak belum pulih sepenuhnya. Keterlambatan rantai pasok, kekurangan tenaga kerja, dan harga bahan baku yang volatil dapat memperpanjang masa pemulihan maupun penyelesaian klaim.

Pemusatan produksi juga memperbesar potensi kerugian. Berbagai industri dapat bergantung pada sejumlah kecil lokasi spesialis, pemasok, atau wilayah tertentu untuk bahan baku dan komponen krusial. Hal ini memungkinkan kebakaran, insiden siber, atau cuaca ekstrem di satu lokasi berdampak sistemik ke seluruh rantai pasok global. Dua peristiwa non-bencana alam termahal dalam analisis ini melibatkan kebakaran di pabrik-pabrik semikonduktor.

Kekurangan nilai pertanggungan (underinsurance) juga tetap menjadi risiko utama karena nilai terdaftar (declared values) bisa jadi tidak memadai akibat faktor-faktor seperti inflasi. Hal ini menegaskan pentingnya peninjauan berkala untuk memastikan nilainya telah mencerminkan kondisi operasional terkini.

“Apa yang semakin sering kami lihat di Asia adalah bahwa besarnya kerugian gangguan bisnis sering kali tidak ditentukan oleh peristiwa awal, melainkan oleh seberapa cepat suatu organisasi dapat pulih. Baik pemicunya berupa kebakaran, banjir, kerusakan peralatan, maupun gangguan pada pemasok utama, bisnis yang beroperasi dalam rantai pasok yang saling terhubung erat dapat menghadapi konsekuensi operasional dan finansial yang berkepanjangan.

“Bisnis juga harus secara teratur meninjau nilai terdaftar dan paparan gangguan bisnis mereka untuk memastikan nilainya secara akurat mencerminkan pendapatan, biaya, dan kondisi operasional terkini. Inflasi, gangguan rantai pasok, dan periode pemulihan yang lebih panjang telah meningkatkan risiko bahwa nilai terdaftar mungkin tidak lagi memadai saat terjadi kerugian besar. Perusahaan yang paling tangguh adalah perusahaan yang memahami ketergantungan krusial mereka lebih awal dan memiliki rencana pemulihan praktis yang dapat langsung diaktifkan,” tambah Charlotte Field, Regional Head of Short-tail Claims di Allianz Commercial Asia.

Gangguan Siber Memperluas Lanskap Risiko

Sementara ransomware tetap menjadi penyebab gangguan terkait siber yang utama, porsi kerugian yang kian besar juga dipicu oleh penghentian layanan awan (cloud outages), kegagalan perangkat lunak, dan insiden pada penyedia teknologi pihak ketiga. Lebih dari 48.000 gangguan terlacak di seluruh layanan awan dan perangkat lunak sepanjang tahun 2025 saja, yang menyoroti meningkatnya ketergantungan bisnis pada rantai pasok digital. Insiden-insiden besar, termasuk serangan terhadap penyedia perangkat lunak dan platform logistik, menunjukkan bagaimana satu peristiwa siber dapat mengganggu ribuan organisasi secara bersamaan. Seiring dengan makin bergantungnya perusahaan pada layanan awan, AI, dan penyedia teknologi pihak ketiga, gangguan bisnis terkait siber menjadi sumber kerugian yang makin signifikan dan kompleks.

“Dalam perekonomian yang saling terhubung saat ini, mencegah gangguan bisnis tidak lagi hanya sekadar melindungi lokasi individu. Meskipun perusahaan telah membuat kemajuan dalam memahami paparan rantai pasok mereka, pencegahan tetap menjadi bentuk manajemen risiko yang paling efektif. Investasi dalam perlindungan kebakaran, ketahanan bencana alam, kesiapsiagaan siber, dan perencanaan keberlangsungan bisnis dapat memberikan perbedaan yang berarti pada durasi dan keparahan kerugian gangguan bisnis. Bahkan investasi yang relatif kecil pun dapat secara signifikan mengurangi dampak gangguan saat hal itu terjadi,” jelas Alberto Barani, Business Interruption Group Leader, Risk Consulting di Allianz Commercial.

https://commercial.allianz.com/
https://www.linkedin.com/company/allianz-commercial/

Tentang Allianz Commercial

Allianz Commercial adalah pusat keahlian dan lini global dari Allianz Group untuk mengasuransikan bisnis skala menengah, perusahaan besar, dan risiko spesialis. Di antara pelanggan kami adalah merek konsumen terbesar di dunia, lembaga keuangan, dan pelaku industri, industri penerbangan dan pelayaran global, serta perusahaan menengah dan milik keluarga yang menjadi tulang punggung perekonomian. Kami juga menanggung risiko unik seperti ladang angin lepas pantai, proyek infrastruktur, atau produksi film. Didukung oleh karyawan, kekuatan finansial, dan jaringan merek asuransi #1 di dunia, kami bekerja sama untuk membantu pelanggan kami bersiap menghadapi masa depan: Mereka memercayai kami dalam menyediakan berbagai solusi pengalihan risiko tradisional dan alternatif, konsultasi risiko yang unggul, dan layanan Multinasional serta penanganan klaim yang lancar. Allianz Commercial menyatukan bisnis asuransi korporasi besar Allianz Global Corporate & Specialty (AGCS) dan bisnis asuransi komersial dari entitas nasional Allianz Property & Casualty yang melayani perusahaan skala menengah. Kami hadir di lebih dari 200 negara dan wilayah baik melalui tim kami sendiri maupun jaringan dan mitra Allianz Group. Pada tahun 2025, bisnis terintegrasi Allianz Commercial menghasilkan sekitar €17,3 miliar dalam premi bruto secara global. https://commercial.allianz.com/