SINGAPURA – Media OutReach Newswire – 8 Oktober 2026 – Seiring perusahaan-perusahaan di Indonesia dan Asia Tenggara mempercepat pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), NUS Business School mengeksplorasi sebuah pertanyaan yang berbeda: ketika AI semakin mampu memberikan jawaban, bagaimana para pemimpin dapat semakin mahir dalam mengajukan pertanyaan?
Selama lebih dari satu abad, pembelajaran berbasis studi kasus telah menempatkan mahasiswa pada posisi para pemimpin bisnis dengan memberikan informasi yang mereka perlukan untuk menganalisis suatu masalah, kemudian meminta mereka menentukan bagaimana masalah tersebut akan diselesaikan.
Kini, kecerdasan buatan (AI) mengubah makna dari bagaimana sebuah studi kasus diselesaikan. Sejak Januari 2026, NUS Business School telah menguji coba pendekatan berbasis AI, di mana mahasiswa diberikan suatu masalah yang disimulasikan oleh AI. Mereka harus menentukan informasi apa yang dibutuhkan, memutuskan kepada siapa pertanyaan harus diajukan, mengevaluasi jawaban yang diterima, dan membuat rekomendasi dalam kondisi penuh ketidakpastian.
Simulasi tersebut dibangun menggunakan ScholAIstic, sebuah platform AI generatif yang dikembangkan oleh NUS AI Centre for Educational Technologies (AICET) untuk mendukung pembelajaran berbasis permainan peran (roleplaying) dan simulasi.
Dr. Emir Hrnjić, Dosen Senior bidang Keuangan di NUS Business School, bekerja sama dengan AICET untuk mengadaptasi dan menyempurnakan kemampuan tersebut bagi pendidikan manajemen, dengan mengembangkan persona eksekutif yang didasarkan pada studi kasus bisnis.
Hingga saat ini, perangkat tersebut telah digunakan oleh hampir 100 mahasiswa program MBA dan Executive MBA di Singapura dan Jakarta, yang sebagian besar merupakan eksekutif senior.
Mempertajam Naluri Manusia di Balik Pengambilan Keputusan yang Tepat
Dalam uji coba tersebut, mahasiswa mewawancarai para eksekutif yang disimulasikan oleh AI, termasuk Chief Executive Officer (CEO), Chief Financial Officer (CFO), serta Chief Product and Technology Officer. Masing-masing memberikan perspektif yang berbeda terhadap situasi bisnis yang sama. Mahasiswa harus menavigasi berbagai perspektif tersebut, menilai informasi yang mereka peroleh, dan menarik kesimpulan sendiri.
Setelah setiap wawancara, mahasiswa menerima umpan balik yang dipersonalisasi mengenai pertanyaan yang mereka ajukan, sehingga mereka dapat melakukan refleksi dan menyesuaikan pendekatan dalam wawancara berikutnya.
Dr. Hrnjić mengatakan, “Mahasiswa harus menentukan apa yang perlu mereka ketahui, mengajukan pertanyaan yang tepat, mempertanyakan apa yang mereka dengar, dan menggunakan penilaian mereka tanpa memiliki gambaran yang lengkap. Tujuannya bukan menggantikan naluri manusia tersebut dengan AI, melainkan mempertajamnya dengan membantu mahasiswa menjadi lebih selektif dalam menentukan apa yang perlu ditanyakan dan apa yang dapat dipercaya. Hal tersebut jauh lebih mendekati cara para pemimpin mengambil keputusan di dunia nyata.”
Temuan awal menunjukkan bahwa penggunaan AI secara efektif bukanlah tentang mengajukan lebih banyak pertanyaan, melainkan mengajukan pertanyaan yang tepat. Analisis terhadap transkrip wawancara menunjukkan bahwa wawancara yang lebih efektif memiliki pertanyaan yang lebih terarah, pertanyaan lanjutan, serta kemampuan beradaptasi ketika informasi baru muncul, bukan sekadar mengikuti daftar pertanyaan yang telah dipersiapkan sebelumnya.
Temuan tersebut menunjukkan peran yang lebih luas bagi AI generatif dalam pendidikan manajemen. Alih-alih menggunakan AI terutama untuk mencari informasi atau menghasilkan jawaban, teknologi ini dapat menciptakan kembali berbagai skenario dunia nyata dan mempertajam kemampuan penilaian para eksekutif agar mereka lebih mampu menghadapi ketidakpastian serta berbagai perspektif yang saling bersaing dalam organisasi nyata.
NUS Business School melihat potensi untuk menerapkan perangkat simulasi berbasis AI serupa di berbagai bidang pendidikan bisnis lainnya, di mana mahasiswa perlu mengajukan pertanyaan kepada para pemangku kepentingan, menegosiasikan kepentingan yang saling bersaing, serta mengambil keputusan dalam kondisi ketidakpastian. Ambisinya adalah bergerak melampaui lingkungan informasi yang sebagian besar statis dalam studi kasus tradisional menuju lingkungan yang dinamis, di mana mahasiswa secara aktif memperoleh informasi, menelusuri pertanyaan-pertanyaan baru yang muncul, menguji asumsi, dan menggunakan penilaian mereka seiring berkembangnya suatu permasalahan.
Simulasi tersebut merupakan salah satu bagian dari pendekatan NUS Business School yang lebih luas dalam mengintegrasikan AI ke dalam pendidikan. Sekolah ini mengeksplorasi bagaimana AI dapat meningkatkan, bukan menggantikan, proses pembelajaran yang bermakna, sehingga membantu mahasiswa mengembangkan kemampuan penilaian, berpikir kritis, dan beradaptasi yang dibutuhkan untuk menghadapi dunia kerja yang semakin didukung oleh AI.
Hal ini menjadi semakin penting seiring AI memainkan peran yang semakin besar dalam dunia bisnis. Perusahaan-perusahaan di Asia, termasuk Indonesia, dengan cepat mengadopsi AI dalam berbagai kegiatan operasional mereka, sehingga kemampuan untuk mempertanyakan dan menilai informasi yang dihasilkan AI menjadi keterampilan kepemimpinan yang semakin penting. Bagi Indonesia, dampak ekonominya sangat signifikan. Sebuah studi Kearney dan EDBI pada 2020 memproyeksikan bahwa AI dapat memberikan kontribusi sebesar US$366 miliar terhadap PDB Indonesia pada 2030, setara dengan 12 persen dari PDB yang diproyeksikan.
Keterangan Foto: Dr. Emir Hrnjić, Dosen Senior bidang Keuangan, NUS Business School (kelima dari kiri), dalam pertemuan dengan media Indonesia di Singapura.
https://www.linkedin.com/school/nus-business-school
https://www.facebook.com/NUSBusinessSchool
https://www.instagram.com/nusbizschool/?hl=en
Tentang National University of Singapore (NUS)
National University of Singapore (NUS) merupakan universitas unggulan Singapura yang menawarkan pendekatan global dalam pendidikan, penelitian, dan kewirausahaan, dengan fokus pada perspektif dan keahlian Asia. NUS memiliki 15 perguruan tinggi, fakultas, dan sekolah yang tersebar di tiga kampus di Singapura, dengan lebih dari 40.000 mahasiswa dari 100 negara yang memperkaya komunitas kampus yang dinamis dan beragam. NUS juga telah mendirikan sekitar 15 pusat kewirausahaan NUS Overseas Colleges di berbagai belahan dunia.
Pendekatan NUS yang multidisiplin dan berorientasi pada dunia nyata dalam bidang pendidikan, penelitian, dan kewirausahaan memungkinkan universitas ini bekerja sama secara erat dengan industri, pemerintah, dan kalangan akademisi untuk menangani berbagai persoalan penting dan kompleks yang relevan bagi Asia dan dunia. Para peneliti di fakultas, pusat keunggulan penelitian, laboratorium perusahaan, serta lebih dari 30 lembaga penelitian tingkat universitas berfokus pada berbagai bidang, termasuk energi; keberlanjutan lingkungan dan perkotaan; pengobatan dan pencegahan penyakit; penuaan aktif; material maju; manajemen risiko dan ketahanan sistem keuangan; studi Asia; serta kemampuan Smart Nation seperti kecerdasan buatan, ilmu data, riset operasi, dan keamanan siber.
Untuk informasi lebih lanjut mengenai NUS, silakan kunjungi nus.edu.sg.
Tentang NUS Business School
Dengan 50.000 alumni dan 60 cabang global, NUS Business School, bagian dari National University of Singapore (NUS), dikenal karena menghadirkan pemikiran kepemimpinan di bidang manajemen dari perspektif Asia, sehingga memungkinkan mahasiswa dan mitra korporasinya memanfaatkan pengetahuan global serta wawasan Asia.
Sekolah ini secara konsisten menempati peringkat pertama di Asia berdasarkan penilaian berbagai publikasi dan lembaga independen, seperti The Financial Times dan Quacquarelli Symonds, sebagai pengakuan atas kualitas program pendidikan, penelitian fakultas, dan lulusannya.
NUS Business School terakreditasi oleh AACSB International (Association to Advance Collegiate Schools of Business) dan EQUIS (European Quality Improvement System). Akreditasi tersebut merupakan pengakuan bahwa sekolah ini telah memenuhi standar tertinggi dalam pendidikan bisnis.
Untuk informasi lebih lanjut mengenai NUS Business School, silakan kunjungi bschool.nus.edu.sg.
Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai program MBA, MSc, atau Executive Education, kunjungi masing-masing situs program terkait.
Recent Comments